SANTET (Witchcraft) - Chapter 3



Entah berapala lama kakek dan anjing it uterus bertatapan, hingga anjing itu menggong – gong sejadi – jadinya tanpa heni. Saya menutup telinga karena tidak kuat dengan suaranya yang sangat keras. Sambil mengonggong – gong si anjing mulai melangkahkan kakinya, wajahnya tetap menyeringai hendak menerkam.

Kakek yang merasa ditantang si anjing kemudian turun dari motor. Saya yang waktu itu ketakutan mencoba menarik jaket kakek untuk menahannya, tapi kakek malah menggubris tangan saya dan terus berjalan seperti ingin meladeni tantangan si anjing. Tanpa diduga kakek mengeluarkan sebuah lidi dari balik jaketnya, panjangnya sekitar setengah meter. Mungkin kakek sudah menduga kejadian ini, dan saat tadi dirumah berlama – lama dikamarnya sedang mempersiapkan hal – hal yang mungkin akan terjadi diluar dugaannya.

Kakek mengacungkan lidi tersebut, sambil mengayun –ayunkannya kea rah si anjing seperti hendak mencambuk. Anjing hitam itu menghentikan langkahnya, namun wajahnya tampak lebih marah. Saya yang waktu itu melihat adegan tersebut panic, takut kalau – kalau si anjing loncat dan menerkam muka kakek. Saya merasa heran bagaiman bisa kakek melawan seekor anjing yang tampak ganas dengan sebatang lidi.

Tapi rupanya ilmu saya terlalu cetek untuk memahami tingkah kakek. Setelah terus – menerus kakek mengayun – ayunkan lidi itu, si anjing hitam secara perlahan mundur. Tapi wajahnya terus menyeringai, tampak air liurnya keluar menetes dengan deras dari mulutnya yang lebar. Beberapa kali si anjing mondar mandir ke kiri kekanan tapi tatapannya tak pernah lepas dari kakek, seperti hendak mencari celah untuk menyerang.

Kali ini kakek mulai memberanikan diri meloncat kedepan hendak mencambuk si anjing hitam, namun dengan gesit si anjing mundur menghindari cambukan kakek yang kemudian berlari kebelakang. Seringai seram si anjing mulai hilang, tapi matanya yang yang bersinar hijau dikegelapan itu tetap menatap kami, seperti gagal melakukan misi si anjing memutuskan untuk pergi, ia masuk ke semak – semak kebun tebu, yang kemudian diikuti suara gong – gongannya beberapa kali. Kini anjing itu hilang ditelan kegelapan malam.

Karena saya terlanjur syok dan kaki saya gemetaran karena ketakutan, maka ketika melanjutkan perjalanan kerumah Mas Joko kakeklah yang membawa motor sementara saya duduk dibelakang. Tentu saja saya duduk dibelakang dengan perasaan was – was takut kalau – kalau sia anjing itu balik lagi dan menerkam saya dari belakang. Tapi tak begitu lama, dari arah depan tampak sebuah cahaya lampu bulat berwarna kuning. Ketika jarak kami mulai dekat, terlihat bahwa itu Mas Joko dan seoarang pria yang saya tidak kenal dibonceng dibelakangnya.

“saya menyusul, takut terjadi apa- apa. Soalnya pas tadi ditelpon katanya lagi dijalan. Takut kalau ban motornya bocor.” Kata Mas Joko kepada kakek.

“engga, Cuma pelan aja bawa motornya, maklum jalanan jelek.” Saya heran, kenapa kakek tak menceritakan peristiwa yang baru saja kami alami. Mungkin kakek tidak mau membuat suasan semakin panic.

Kami berangkat melanjutkan perjalanan, motor Mas Joko mengikuti kami dari velakang. Sekarang saya sedikit tenang, seandainya anjing itu datang lagi dan hendak menerkam, setidaknya masih ada orang dibelakang saya. Akhirnya kami tiba dikampung Mas Joko. Setelah masuk ke jalan kecil dan melewati kebun singkong sebuah rumah dengan cat putih terlihat. Mas Joko membunyikan klakson, saya menduga dia ingin memberitahukan bahwa itu rumahnya.

Begitu kami masuk rumah,  Mas Joko memperkenalkan kami dengan mertuanya, seorang wanita paruh baya dan adik iparnya yang tadi ikut bersama Mas Joko dibonceng dibelakang. Dirumah itu Cuma mereka bertiga kata Mas Joko, bapak mertuanya sekitar 2 bulan yang lalu sudah meninggal. Tadi sore rumah ini sempat ramai oleh tetangganya yang ingin menjenguk, tapi sekarang sudah sepi.

Setelah minum kopi hangat sajian mertua Mas Joko, kami dibawa ke kamar untuk melihat kondisi istrinya yang sakit. Sebenarnya saya ingin duduk saja sambil menikmati kopi dan cemilan yang disajikan namun karena rasa penasaran saya mengikuti kakek dari belakang.

Tampak seorang wanita mengenakan daster merah motif kembang – kembang sedang duduk berbalut selimut. Rambutnya panjang tergerai, dengan kulit sawo matang. Tatapannya kosong kearah jendela, sepertinya dia tidak sadar dengan kedatangan kami. Kemudian Mas Joko memperkenalkan bahwa wanita itu istrinya, Mba Tuti.
“neng….neng….neng….” kakek memanggil – manggil Mba Tuti.

Mba Tuti tidak merespon, dia masih anteng melihat kearah jendela. Wajah Mba Tuti tampak pucat, lingkaran hitam disekeliling matanya tampak jelas (istilahnya mungkin mata panda) kata Mas Joko istrinya itu jarang tidur, kalau tidak kumat ya kerjaannya seperti itu bengong, badannya juga kurus bahkan tulang belikat dibawah lehernyapun terlihat.

Kakek menyuruh Mas Joko untuk mengambil segelas air putih, setelah dibawakan kakek kemudian melafalkan doa – doa. Setelah selesai, sedikit demi sedikit air itu dicipratkan kewajah Mba Tuti. Namun kaget bukan main semua orang yang ada dikamar itu termasuk saya ketika melihat reaksi Mba Tuti saat menerima cipratan air doa dari kakek. Tangannya menyamber gelas yang sedang dipegang kakek, hingga terpental kearah tembok. Bunyi denting gelas terbentur memekikan telinga, hingga pecahan kacanya berhamburan kemana – mana, bahkan hamper saja mengenai mata mertua Mas Joko.

Mba Tuti berubah ekspresi yang tadinya tenang dan kosong kini tampak tampak. Matanya melotot sempurna, giginya menyeringai bahkan terdengar gemeletuk dari gigi yang ditekan scera berlebihan sehingga terasa ngilu bagi kita yang mendengarnya. Deru nafasnya semakin kencang seperti orang yang sedang menahan amarah. Mba Tuti menyender ke tembok seakan sedang ancang – ancang untuk menyerang, jari tangannya terus mencakar – cakar tembok membuat ngilu bagi yang melihat apalagi mendengar suaranya “ini bukan istrimu Jok” kata kakek pelan.

Baru saja kakek lengah menengok kearah Mas Joko, Mba Tuti loncat menerkam kakek. Kini leher kakek berada dalam cengkraman Mba Tuti, kami yang panic melihat kejadian itu segera menarik tubuh Mba Tuti. Bayangkan tiga orang pria, saya, Mas Joko dan adik iparnya menarik tubuh seoarang wanita kurus secara logika seharusnya bukan masalah. Tapi diluar dugaan kami, Mba Tuti masih koko mencekik kakek tidak goyah sedikitpun bahkan saat kami bertiga menariknya sekuat tenaga.

Ibu mertuanya yang panic, menangis sambil berlari keluar mungkin hendak mencari bantuan. Sementara kami terus berusaha melepaskan Mba Tuti. Muka kakek tampak merah, nafasnya tersengal – sengal tapi bibirnya tampak berkomat – kamit mungkin sedang melafalkan doa. Mba Tuti mendekatkan wajahnya kearah kakek hingga mulutnya hanya berjarak beberapa centimeter dari muka kakek, dan tanpa disangka – sangka dia berteriak sejadi – jadinya. Kami yang sedang berusaha menarik tubuh Mba Tuti reflek menutup telinga.

Setelah berteriak Mba Tuti loncat kearah depan melepaskan cengkramannya. Kemudian istri Mas Joko itu jongkok menatap kami. Seperti seekor binatang, Mba Tuti tampak tidak peduli lagi dengan dengan penampilannya, dasternya yang robek bagian sampingnya karena dia bergerak lincah dan tak teratur, sehingga bagian sensitifnya terlihat kemana – mana, tapi laki – laki mana yang akan nafsu ketika melihat model wanita yang sedang kondisi seperti kesetanan.

Tidak begitu lama ibu mertua Mas Joko datang bersama rombongan, sekitar 8 orsng dengan dua perempuan dan sisanya laki – laki. Mereka tampak keheranan menatap Mba Tuti didepan pintu masuk. Saat lengah itulah kakek menyentuh kepala Mba Tuti tepat dibagian jidat, kakek mencengkramnya dengan kuat. Mab Tuti berteriak – teriak, meronta bahkan tak segan untuk mencakar dan menendang tubuh kakek.

“bantu saya, pegang tangan dan kakinya” teriak kakek pada kami. Sontak semua pria yang ada disana membantunya.

Walalupun tangan dan kakinya sudah dipegang kuat, tapi tampaknya Mba Tuti masih berusaha melawan kakek dengan memajukan mulutnya untuk menggigit. Mungkin saking kesalnya karena gigitannya tak juga kena, Mba Tuti meludahi kakek beberapa kali. Tapi kakek tak gentar dengan serangan yang dilakukan, hingga akhirnya Mba Tuti tergolek lemas tak berdaya. Setelah keadaan tenang Mba Tuti ditidurkan kembali diatas ranjangnya.

Menurut kakek yang ada di dalam Mba Tuti bukan nyawanya sendiri, tapi mungkin setan suruhan seseorang sedangkan nyawa Mba Tuti tersesat berkeliaran. Saya kira kejadian itu hanya terjadi di dalam film saja, ternyata nyawa juga bisa keluar dari tubuh kita dan tersesat. Entah benar atau hanya mengada – ada dengan ucapan kakek, tapi jika melihat kejadian yang baru saja terjadi memaksa saya untuk sedikit meyakininya.

“dia sedang kelelahan, mungkin nanti akan kumat lagi Jok.” Kata kakek.

“terus saya harus gimana pak?”

Lalu kakek menjelaskan kepada Mas Joko bahwa ini pengalaman pertamanya menangani kasus seperti ini, dulu memang kejadian seperti ini pernah terjadi, tapi kakek hanya sebatas menyaksikan saja tak ikut andil dalam mengobati.

“kita harus melakukan upaca “ngajemput lelembut””. Kata kakek kepada Mas Joko.

Istilah “ngajemput lelembut” ini kalalu dalam bahasa Indonesia bisa diartikan menjemput nyawa. Menurut kakek, dahulu kala konon upacara ini sering dilakukan atau lumrah dikampung. Karena dulu saat kampung kami masih benar – benar hutan dan masih banyak tempat – tempat keramat banyak orang – orang yang tersesat dan linglung tak bisa pulang, padahal secara penglihatan lahir orang tersebut hanya tertidur, biasanya jasadnya disembunyikan si setan di semak – semak atau bahkan di dahan – dahan pohon besar. Orang yang biasanya diisengi setan itu karena melanggar atau berlaku tidak sopan, seperti mengencingi sebuah pohon atau duduk diatas makan tanpa sengaja.

Akhirnya malam itu kami memutuskan untuk diam dirumah Mas Joko, bersama bapak – bapak yang lain tetangganya kami berbincang seru, seakan melupakan kejadian mengerikan yang baru saja terjadi. Saya ikut nimbrung tapi tidak ikut mengobrol, hanya menikmati kopi dan kacang rebus yang disediakan mertua Mas Joko.

Hingga akhrinya “tahrim” berkumandang. Tahrim itu kalau dikampung saya adalah istilah untuk membangunkan orang untuk sholat shubuh, jadi biasanya seseorang datang ke masjid dan membaca alquran melalui speaker, hal itu dilakukan sampai tiba waktunya adzan shubuh. Dikampung saya biasanya tharim dimulai dari jam setengah empat pagi.

Saya dan kakek berpamitan untuk pulang, memburu untuk sholat shubuh dirumah. Tapi sebelum pulang kakek berpesan dengan suara pelan agar Mas Joko mengorek – ngorek halaman depan atau belakang rumahnya untuk mencari benda – benda aneh yang mungkin saja ditanam oleh seseorang.


Bersambung Chapter 4




SANTET (Witchcraft) - Chapter 2


Saya dan kakek berangkat jam 9 malam. Molor 1 jam semenjak Mas Joko menelpon karena menggu kakek dikamar entah sedang ritual apa, mungkin sedang melafalkan doa – doa.

Dikampung saya jam 9 malam itu udah setara dengan jam 12 malam, karena seisi kampung sudah pada tidur. Tidak ada tempat hiburan, tidak ada pedagang dan tidak ada hingar bingar lampu jalan seperti di Brebes ataupun dikota – kota. Setelah ba’da isya biasanya sudah jarang orang yang keluar rumah, kalaupun ada hanya bila ada keperluan saja itupun beberapa orang. Para pemuda – pemudi pun hanya keluar atau main malam pas ada hajatan saja, seperti dangdut, wayang golek atau layar tancep. Mereka lebih memilih diam dirumah dan nonton TV. Kecuali bapak – bapak yang kebagian ronda, sekalipun sekarang ronda sudah jarang aktif lagi, paling banter siskamling diaktifkan lagi kalau sedang musim pencurian saja.

Saya mengeluarkan motor bebek, motor lama kesayangan kakek yang hobinya ngadat kalau kehujanan. Honda astrea legenda peninggalan kakek pas jaman muda yang masih tersisa. Nenek meminta ijin kepada kakek untuk ikut tidur dirumah tetangga Mba Lastri seoarang janda, entah kenapa suasana rumah menjadi mencekam setelah mendapat telpon dari Mas Joko. Nenek saya memang seorang penakut.

Sekedar info, jarak antara kampung saya dengan kampungnya Mas Joko itu sekitar 8 kilometer, kampung kami dipisahkan oleh persawahan. Melewati jalan besar yang jelek maklum jalan – jalan diperkampungan jarang diperhatikan mengingat mungkin pemerintah menganggap bukan jalan utama yang terlalu ramai.

Sayang persawahan untuk bagian dalam atau dipelosok tidak seindah persawahan dipinggir jalan raya. Seperti persawahan di Bali yang pemandangannya begitu indah karena savana hijau. Perkebunan bagaian dalamnya, khususnya yang menghubungkan kampung kami ini ditanami pohon mahoni, beringin, dan berbagai jenis pohon lainnya. Memang teduh kalau pada siang hari, tapi kalau pada malam hari terasa horror melihat pohon – pohon besar berdiri.

Saya menyalakan motor dan membonceng kakek, dengan bismillah kami berdua berangkat menuju rumah Mas Joko. Walaupun kami masih melewati jalanan kampung tapi suasana sepi begitu menyelimuti, maklum didesa saya jarak antar rumah kerumah lumayan renggang tidak seperti dikota yang padat dan saling menempel anatara tetangga. Tidak ada seorangpun yang kami temui dijalan, mungkin karena sudah larut dan orang – orang sudah terlelap dalm mimpinya.

“kakek memang sudah tahu rumahnya Mas Joko?” aku membuka obrolan untuk mengusir dinginnya malam, entah kenapa mala mini angin begitu kencang sehingga rasa dingin seperti menusuk tulang.

“nanti dia menunggu dipinggir jalan katang”.
Setelah melewati jalan perkampungan, kemudian kami akan melewati perkebunan warga, yang didominasi oleh kebun tebu. Tebu memang menjadi komoditi disini selain bawang, cabai dll, kalian memang sudah tahu bahwa kabupaten Brebes memang penghasil bawang.

Disetiap kebun tebu warga selalu menanam pohon bambu, karena pohon bambu sangat berguna disini selain bisa dibuat untuk pagar, tiang, anyaman. Bambu mudanya (rebung) juga bisa dimakan. Bayangkan pemandangan pohon – pohon bambu yang menjulang tinggi dimalam hari. Belum lagi ketika tertiup angin, pohon bambu ini akan bergoyang dan menghasilkan bunyi karena saling bergesekan. Tidak ketinggalan bunyi dari daunnya yang melambai – lambai seperti tangan dikegelapan. Belum lagi mitos didesa kami bahwa pohon bambu biasanya menjadi sarang atau tempat makhluk halus bersemayam.

Saya membawa motor dengan pelan, untuk menghindari jalanan yang berlubang. Tidak ada lampu jalanan yang menerangi kami, hanya sebatas lampu depan motor yang menjadi petunjuk didepan. Keadaan benar – benar gelap, karena langit tampaknya mendung mau hujan karena tidak terlihat satu bintangpun.

Konsentrasi saya terpecah antara membawa motor dan perasaan takut yang tiba – tiba saja menyelimuti. Belum lagi dinginnya angin malam yang membuat wajah saya terasa kaku. Ketika sedang merasa takut pasti pernah merasakan bahwa kita selalu merasa sedang diikuti, perasaan untuk menengok kebelakang atau kesamping selalu saja menggoda kita. Pandangan didepan pun tak kalah horror karena gelap gulita, perasaan was – was kalau tiba – tiba saja lampu motor menyorot sesuatu yang mengerikan selalu menghantui.

Ngomong – ngomong soal menengok kebelakang. Mitos dikampung sata atau didaerah lain juga sama ? kono katanya kalau kita sedang jalan sendirian ditempat sepi, ketika takut dan merasa diikuti selalu saja tiba – tiba kita ingin menegok kebelakang. Jangan pernah menegok kebelakang sama dengan lamabaian tangan untuk si hantu. Dia akan merasa diajak atau dipanggil sehingga akan mengikuti kita.

Setelah melewati jalan yang diapit kebun tebu, masuklah kita kejalan utama. Maksudnya jalan yang cukup besar dan kalau di siang hari menjadi tempat lalu lalang kendaraan warga. Tapi sayangnya ini malam hari jadi keadaan sepi.

Kebun tebu yang pada siang hari terlihat adem dengan pohonnya yang rindang, dimalam hari begitu menyeramkan, terdengar suara gemuruh ketika daun dan dahan saling bergesekan karena angin. Lengkap dengan suara jangkrik. Ingin rasanya saya menarik pedal gas hingga kecepatan maksimal, tapi saying kondisi jalan yang jelek tidak memungkinkan.

“baca ayat kursi teng.” Bisik kakek saya tiba – tiba.

Mendengar perintah kakek saya merasa panic, maksud hati ingin bertanya alasannya tapi saya lebih memilih diam saja. Saya hanya menebak mungkin karena kita melewati sebuah tanjakan. Dikampung saya ini ada sebuah tanjakan, hanya  terkenal disekitaran kampung saja, katanya dulu kata kakek saat saya masih kecil, tepat dipinggir tanjakan ada sebuah pohon mahoni besar tempat dimana dulu ada orang gantung diri. Tanjakan ini juga biasanya menjadi tempat para begal bersembunyi untuk merampok korbannya. Beberapa kali pernah terjadi kasus begal dan TKPnya selalu disini. Mungkin si perampok ingin memanfaatkan keadaan panic dari pengendara.

Setelah melewati tanjakan itu, disamping kami ada suara krasak – krusuk. Saya mengira itu hanya suara musang yang lewat atau mencari makan. Tapi suara itu seperti mengikuti kami, saya yang gemetar dan ingin menegok kesamping ditepuk oleh kakek dan menyuruh untuk melanjutkan dan jangan berhenti. Saat sedang menyetir dengan perasaan deg – degan samar – samar didepan terlihat sepasang mata. Bersinar tampak kontras ditengah kegelapan. Seketika saya menginjak rem, kakek merasa kaget karena saya berhenti tiba – tiba.

“kenapa teng?”
“itu didepan apa?” jawab saya pelan sambil menunjuk kedepan.
“astaghfirulloh, kita dihalangi agar jangan datang kerumah si Joko!”. Jawab kakek pelan.

Tidak terlihat jelas, hanya samar – samar terlihat mata itu ditengah jalan. Tapi mata itu posisinya berada dibawah, seperti sedang berjongkok. Saya mengira itu musang tadi yang mengikuti kami. Saya tidak mengerti ucapan kakek yang katanya kita dihalangi.

“gimana kek?”

Kakek lalu turun dari motor, waktu itu saya kepikiran jangan – jangan begal. Lalu kakek teriak – teriak manggil “sopo ning kono ?(siapa disana?). saya menyarankan untuk putar balik buat pulang tapi kakek membentak saya.

Karena teriakan kakek tak kunjung ada jawaban, dan kedua sinar mata itu juga ga pergi. Maka kakek memtuskan untuk mengambil batu segede kepala tangan, dilemparlah batu itu kedepan. Mata itu tak juga pergi, malah anteng aja didepan seperti menatap kami. Karena mungkin kakek merasa kesal kakek menyuruh saya untuk jalan pelan – pelan. Awalnya saya menolak karena ketakutan, tapi kakek memutuskan untuk jalan duluan diikuti saya dari belakang. Lampu motor disenter jarak jauh buat mastiin apa yang ada didepan itu. Saya dan kakek jalan dengan pelan.

Begitu lampu motor perlahan menyorot cahaya mata itu, kaget bukan kepalang sampe saya tak sengaja menekan klakson. Seekor anjing hitam berdiri persis ditengah jalan. Tubuhnya seukuran anjing normal, tapi bulunya hitam legam, matanya berwarna hijau dengan lidah terjulur keluar anjing itu menatap kami berdua. Seketika bulu kuduk saya merinding, tentu saja ini bukan anjing biasa. Walaupun dikampung saya ada yang punya anjing dengan warna hitam, jadi bisa dipastikan ini bukan anjing milik warga. Kakek sambil bilang huss… huss… tapi anjing itu tak terusik sedikitpun.

Mungkin karena kakek kesal karena si anjing tak mau juga pergi, maka kakek menyuruh saya untuk jalan saja, lagian anjing itu berdiri ditengah jalan, mungkin  kita bisa jalan dipinggir saja mengingat ini jalanan lebar. Tapi saya tak berani menolak permintaan kakek. Entah kenapa walaupun itu seekor anjing dan saya sering melihat anjing tapi perasaan takut tak bisa dibohongi mungkin karena melihat kelakuan anjing yang seperti itu pada malam hari terasa tidak wajar. Maka kakek memutuskan untuk memboncengi saya dibelakang.

Baru saja kita berjalan sebentar anjing itu berdiri sigap. Matanya yang tadi polos bulat kini menyipit menatap kami, menunjukkan gigi runcingnya seperti hendak menerkam. Karena kaget kakek menginjak rem, waktu itu saya benar – benar ketakutan setengah mati sampai tanpa disadari memeluk pinggang kakek kuat – kuat.

Si anjing menggonggong – gonggong keras kearah kami. Bayangkan suara gonggongan anjing malam – malam ditengah kebun tebu yang gelap gulita. Suara itu membahan dan menimbulkan gema, saya komat – kamit membaca ayat kursi, entah bacaan saya benar atau salah saya tak ingat lagi karena saking paniknya. Tapi kakek malah menatap anjing itu seolah sedang menantangnya, tapi kayaknya kakek deg – degan juga, soalnya waktu saya ketakutan dan memeluk pinggang kakek terasa jantungnya berdetak dengan kencang didada.

Anjing itu tampaknya menyuruh kami untuk pulang, seakan – akan menghalangi kami untuk datang kerumah Mas Joko, saya tak berani melihat kearah anjing itu, tapi sesekali mengintip dari pundak kakek, anjing itu tampak geram seperti ingin menyerang kami. Saya terus melafalkan ayat kursi kali ini denga suara keras karena saking takutnya.

Kakek dan anjing itu saling bertatapan cukup lama seperti sedang melakukan perbincangan secara batin, saya hanya menduga saja tak bisa memastikan. Hingga kemudian suara handhphone kakek bordering kembali, tapi kakek sepertinya tidak terusik sama sekali terus bertatapan dengan anjing. Karena saya merasa gelisah dan takut mendengar suar handphone dalam kesunyian, saya memberanikan diri mengambil handphone kakek dari saku jaketnya. Ternyata Mas Joko menelpon, kemudian saya mengangkatnya.

“assalamu’alaikum, nuwun sewu pak, masih dimana yah?”

Saya hendak menceritakan apa yang kami alami disini, siapa tahu Mas Joko bisa membantu untuk menjemput kami. Tapi saya malah menjawab
“lagi dijalan Mas sebentar lagi.” Kemudian saya menutup telponnya saking takutnya.




SANTET (Witchcraft) - Chapter 1


Saya tinggal di daerah Kabupaten Brebes, nama kampungnya saya samarkan saja ya..demi kebaikan bersama. Sedangkan sekarang saya berada di Bekasi untuk menimba ilmu (kuliah ) dan kerja. Pengalaman yang saya lihat tentang kasus ini sebenarnya udah lama banget sekitar kelas 9 SMP. Kakek saya adalah seorang petani dan pedagang sekaligus berprofesi sampingannya yaitu membantu orang, saya tak tahu harus mendefinisikan apa untuk bagian membantu orang ini. Jadi begini didesa saya ini kebudayaan Hindu masih kental, sekalipun agama mayoritas didesa kami Islam tetapi tradisi Hindu lama tak bisa dilepaskan, seperti membakar kemenyan saat ziarah ke pemakaman atau melakukan upacara – upacara adat di kampung seperti ruatan bumi dan sebagainya, saya tak tahu apa ini tradisi Hindu atau hanya adat istiadat setempat yang pasti kebiasaan itu masih bertahan samapai sekarang.

Kakek saya belum terlalu tua waktu itu, umurnya baru 48th, bisa dibilang masih muda, kakek saya adalah orang yang selalu dimintai untuk mendoakan kemenyan saat mau ziarah ke makam atau mendoakan air untuk orang yang sakit. Mungkin bisa dibilang orang pintar atau dukun, tapi saya menolak dibilang dukun karena kakek saya tidak membuka praktek, beliau hanya mencoba membantu orang – orang sekitar dengan ilmu kebatinan dan tidak memungut bayaran, sekalipun ada saja orang yang berterima kasih dengan imbalan uang dengan nominal paling besar 20 ribu rupiah, saya tahu karena saya sering melihatnya kalau sedang dirumah. Tidak melakukan ritual yang aneh – aneh, bila ada orang sakit biasanya kakek saya hanya memberikan air putih dalam botol yang sudah dilafalkan doa – doa.

Kakek saya belajar doa – doa dan semua ilmu kebatinannya dari Mbah Buyut (bapaknya kakek saya), dulu sewaktu Mbah Buyut saya masih hidup dia adalah sesepuh kampung sekaligus seorang “Syeh Mayit”. Saya tak tahu apa sebutan nasionalnya atau nama di daerah lain julukan untuk seseorang yang berprofesi untuk mengurusi jenazah mulai dari memandikan, menyolatkan hingga menguburkan. Tapi dikampung saya orang yang bertugas untuk mengurus jenazah disebut “Syeh Mayit”.

Disini untuk pertama kalinya pengalaman teraneh yang pernah saya alami dimulai. 
Berawal dari kedatangan seoarang pemuda usianya sekitar 25 atau 27th dari kampung sebelah kerumah kakek saya (saya tinggal dirumah kakek saya karena kedua orang tua saya sibuk kerja dari mulai saya lahir umur 3bulan sampe kelas 2 SMA). Namanya saya samarkan demi kebaikan bersama, kita anggap saja namanya Mas Joko. Mas Joko datang kerumah ba’da isya, saya masih ingat karena waktu itu sedang asyik nonton TV dan kemudian nenek saya teriak – teriak nyuruh sholat.

Mas Joko datang kerumah menceritakan kalau istrinya sedang sakit, dia membawa botol mineral ukuran 1 liter, saya yang sedang asyik nonton TV diruang tengah mendengar percakapan antara kakek dan Mas Joko kurang lebih seperti ini (percakapan ini dalam bahasa jawa kasar namun saya translatekan ke bahasa Indonesia agar mudah dipahami oleh pembaca):

Mas Joko  :” istri saya sudah seminggu sakit pak!”
Kakek  :” kenapa tidak dibawa ke mantri di puskesmas, memangnya sakit apa?”
Mas Joko :” lemas, ga bisa bangun. Kata pak mantri ini sakit demam biasa, tapi obat sudah habis masih tetep aja, besok mau dibawa kerumah sakit rencananya pak. Tapi sebelumnya saya mau minta tolong. Takutnya ini ada apa – apa gitu”.
Kakek  :” apa – apa, apa?!” kakek saya memang suka bercanda.

Dikampung saya setiap kali ada orang yang sakit, selalu dikaitkan dengan hal – hal mistis. Maka tak heran orang – orang lebih memilih membawa kerabatnya yang sakit ke orang pintar dari pada ke dokter. Tak heran sih, soalnya biaya pengobatannya lebih murah dari pada harus dibawa kerumah sakit.

Kakek yang mendengar penjelasan Mas Joko lalu meminta sebotol air mineral yang telah dibawa, kemudian kakek memejamkan mata dan melafalkan doa – doa. Saya yang awalnya tidak tertarik kemudian beralih keruang tamu bersama nenek. Sementara kakek masih sibuk dengan meditasinya, saya dan nenek mencoba berbincang – bincang denga Mas Joko mulai dari menanyakan keadaan istrinya hingga akhirnya obrolan ngalor ngidul yang tak kunjung tujuannya.

Ketika sedang asik – asiknya kami berbincang kakek terperanjat kaget yang hampei saja menjatuhkan air dalam botol yang sedang dipegangnya. Sontak kami semua kaget melihat reaksi kakek yang tiba – tiba. “kenapa pak?” Mas Joko yang posisinya berada didekat kakek reflek bertanya. “engga, ini kirain kecoa dibawah”. Jawab kakek denga bercanda seperti biasa. Namun saat Mas Joo sudah keluar dari rumah kami, kakek berkata pada nenek dengan mimik muka serius “kasian istri si Joko. Semoga tidak apa – apa”. Sejak ucapan kakek hari itu saya curiga ada yang tidak beres dengan istrinya Mas Joko.

Benar saja, setelah tidak ada kabar selama sebulan, Mas Joko datang kerumah. Dia bilang istrinya tambah parah. Istrinya sekarang malah seperti orang ayan. Kalau dulu cuma lemas, sekarang dia seperti orang gila. Kadang tertawa – tawa sendiri kadang menangis. Bahkan yang lebih parah kata Mas Joko kalau sedang mengamuk, istrinya bisa marah – marah tak jelas membuat kegaduhan dengan melempar barang – barang dan teriak – teriak.

Sekedar info, Mas Joko ini orang yang cukup berada, dia adalah bakul bawang. Orang yang suka beli bawang ke petani terus dijual ke juaragan/pengepul. Oh iya nama istrinya Mas Joko saya samarkan juga yaah takutnya ada keluarganya yang membaca, kan saya jadi gak enak membeberkan rahasia rumput sebelah he he he….sebut saja nama istrinya Mba Tuti. Kata Mas Joko selama sebulan kemarin dia kerepotan, usahanya terbengkalai, maklum dia Bandar kecil jadi segala sesuatu diurusnya sendir tanpa karyawan. Uang tabungannya menipis karena harus bolak – balik ke rumah sakit. Begitu ucapannya kepada kakek.

Gejala yang aneh dimulai ketika sitri Mas Joko dirawat dirumah sakit. Kata Mas Joko waktu itu itu jam 1 malam sedang menjaga istrinya dikamar rumah sakit dia merasa lapar. Tanpa pikir panjang karena melihat istrinya sudah tertidur lelap dia keluar untuk mencari makan, karena didepan rumah sakit ramai oleh pedagang yang menjajakan dagangannya.

Pas selesai makan Mas Joko balik lagi ke kamar, Mba Tuti sudah ga ada di ranjangnya. Awalnya dia ga merasa aneh atau curiga karena mungkin sedang ke kamar mandi yang letaknya emang berada diluar kamar, maklum walaupun Mas Joko ini orang yang cukup berada tapi hanya mampu untuk menyewa kamar kelas 3 yang minim fasilitas dan isi pasiennya bisa nyampe 6 orang.

Lima belas menit berlalu Mba Tuti belum juga datang, maka Mas Joko berinisiatif buat melihat ke kamar mandi, dia mengetuk pintu sambil memanggi – manggil nama istrinya. Namun ternyata pintunya tidak terkunci, Mas Joko kaget bukan kepalang ketika melihat istrinya sedang jongkok seperti anjing mejilati air WC, dia muntah sejadi – jadinya melihat kelakuan istrinya yang diluar nalar itu. Wajah Mba Tuti pucat, mata melotot sempurna, lidahnya melet – melet persis seprti anjing. Begitu ucap Mas Joko kepada kakek sore itu.

Mendengar cerita Mas Joko tentang istrinya membuat bulu kuduk saya merinding dan juga merasa mual. Apalagi nenek saya yang tak kuat dan langsung pergi ke kamar mandi. Sejak melihat kejadian itu Mas Joko merasa yakin bahwa istrinya bukan sakit biasa, bukan sakit secara lahiriah. Maka dibawa pulanglah Mba Tuti kerumah.

Saya yang sebagai generasi modern tidak kepikiran waktu itu bahwa Mba Tuti diguna – guna, keimanan saya pada hal – hal mistis sedikit demi sedikit telah luntur. Lagian guna – guna atau santet setahu saya yang sering lihat di TV biasanya cuma sakit perut, muntah darah atau muntah paku. Hingga akhirnya kakek berkata bahwa istri Mas Joko ini ada yang ganggu. “saya juga udah yakin pak, tapi siap orangnya kok sampe tega. Perasaan saya tak pernah bertengkar sama orang atau menyakiti hati orang”. Ujar Mas Joko kepada kakek dengan raut muka penuh tanda Tanya. “saya tidak tahu.” Kakek tak menjawab rasa penasaran Mas Joko.

Saya tidak tahu apakah kakek benar – benar tidak tahu atau hanya menjaga situasi agar tetap kondusif. Maklum masalah ghaib – perghaiban itukan susah untuk dibuktikan secara kasat mata, walaupun kita sudah tau siapa pelakunya tapi tanpa bukti yang jelas takutnya dibilang fitnah. Mungkin kakek menjaga agar Mas Joko tidak bertindak sembrono.
“ saya harus gimana? Mohon bantuannya lah pak!!”  “ saya juga ga terlalu paham Jok, masalah beginian. Biasanya bapak cuma ngusir orang yang ditempelin jurig jarian saja (jurig jariang itu istilah setan kelas bawah yang biasanya berdiam ditempat – tempat seram seperti pohon beringin dsb) tapi insyaallah bapak coba bantu sebisa mungkin”. 
Mendengar permintaan Mas Joko, kakek tampak kebingungan.

Tidak seperti biasanya kali ini kakek tak memberikan air yang sudah di doakan, mungkin beda perkara. Kakek hanya menyuruh Mas Joko pulang dan memberikan semacam hafalan atau doa khusus yang telah ditulis kakek dalam kertas, katanya untuk di amalkan sehabis sholat isya.

Sebelum pamitan Mas Joko  meminta nomor handphone kakek, jaga – jaga untuk keadaan darurat katanya. Walaupun desa saya terpencil dan listriknya masih belum stabil karena sering mati lampu, tapi semua penduduknya udah punya handhphone walaupun masih tipe – tipe nokia jadul he he …

Setelah kedatangan Mas Joko untuk yang kedua kalinya kakek sering wirid. Saya biasanya kebangun karena mendengar suara cipratan air ketika kakek berwudhu dikamar mandi. Setelah dua hari, tepat jam 8 malam Mas Joko nelpon. Kami yang sedang asik berkumpul diruang tengah, nenek, saya dan kedua keponakan saya jadi ikut gelisah melihat kakek mondar – mandir sambil menelpon.  “kenapa pak?” Tanya nenek. “ini si Joko, katanya istrinya kumat lagi. Teng ayo anter kakek kerumah si Joko.” Setelah menutup telponnya mengajaku untuk mengantarnya. Teng itu kependekan dari Kateng, sebuah panggilan sayang terhadap anak, cucu ataupun adiknya. Dengan terpaksa mata saya yang sudah mengantuk sebenernya, mengantar kakek karena tidak mau disebut cucu durhaka.




"Kakak, Koyonya Nongol Tuh!"



Sebagai junior yang baik dan budiman, gue emang harus kerja lebih ‘extra’ dari para senior gue. Kerjaan harus lebih cepet, bolak balik kaya setrikaan di area dine-in, service maupun back area itu udah biasa. Tapi untuk pertama kalinya gue ngerasa capeeekkk banget. Rasa capeknya kaya abis ngeburuh di pabrik seharian full. Okeh, baiklah, even gue gak tau rasanya jadi buruh, intinya gue capek banget saat itu. Setelah diinget-inget, gue baru ngeh kalo gue bolak-balik udah 2000x ( malaikat rokib yang bisikin gua) selama 3 minggu berturut-turut dengan schedule yang terkenal bikin gempor. Akhirnya gue comot aja satu bungkus koyo yang kata temen gue, ampuh buat ngilangin pegel di badan.
    Malem sebelum tidur gue coba pake koyo di pinggang, punggung dan pantat. Gue bingung kenapa kemarin gue pake koyo di pantat, tapi rasanya enak, coba deh! Keesokan paginya, badan gue berasa enakan. Masih pegel sih tapi lebih mending lah daripada yang kemarin-kemarin. Akhirnya gue putusin buat pake koyo sebelum gue berperang ngadepin anak2 TK maupun PAUD dr Unity School, yang saat itu buat acara Fill Trip selama 2 hari di Dunkin. Hari pertama 80 bocil, 15 pembimbing, 10 pendamping belum lagi para orang tua yang rempong2 bikin Dunkin udah kaya kapal pecah yang bisa dipastikan naudzubillah banyaknya. Gue tempel di pinggang, punggung dan gak lupa di pantat. Sayangnya, posisi koyo itu bawa musibah memalukan sepanjang sejarah gue sebagai Agus Rich oowhh Agus Priyanto ding.
    Awalnya acara Fill Trip berjalan biasa aja. Gue emang ngerasa aneh, kenapa banyak customer ngelirik gue terus ketawa ngakak. Gue pikir karena mereka ngeliat gue mirip banget sama Mike Lewis (walaupun gue masih bingung, kenapa pula mereka harus ketawa?). Ditengah acara ada tukang service AC. Gue udah siapin mental ketemu ‘masteng’ alias ‘mamas tengil’ yang bau badannya gue yakin saingan sama bau boker yang seminggu gak dikeluarin.
    Dan ternyata, begitu beberapa ekor ‘masteng’ onfloor, gue langsung cium bau boker (yang bikin gue ikutan pengen boker) menuhin service area dunkin. ANJEENNGG! Mulut gue mulai megap-megap kaya ikan mujaer kurangan air. Rasanya mau gue comot aja masker oksigen terus gue pasang dimuka, sebodo deh gue service kaya pasien kanker, yang penting paru-paru gue tercinta ini selamat walafiat. Tapi sebagai pramusaji yang professional dan sakti mandraguna, gue walking sambil nafas lewat mulut donnkk! Segitunya pengorbanan guehh…
Eh, gak lama….
    “Pegel, Kakak?” sapa salah seorang customer yang gue yakin, orang Kupang/Ambon asli. Tampang dan logatnya itu lohh.
    “Ah, enggak koq, Mas. Biasa aja.” Jawab gue sambil senyum kiyud imyud. Eh dia malah ketawain gue, dan lanjutan kalimatnya langsung bikin gue kaya kesamber petir yang cetar membahana.
    “Ah, masa? Tapi kok pake koyo? Nongol tuh,Kakak!” dia dan kawan-kawan ‘masteng’nya langsung ketawa ngakak.
    “Kita juga pakai kok, Kakak! Yang cabe pulak!” MARMUT, KECOAK, JIGONG BULUUKKK!!! Demi apapun, gue malu gilak!!! Gue langsung ngabur ke Back Area dan mencomot koyo yang ada dipinggang gue. Rupa-rupanya, koyo itu gue pasang agak ke bawah, jadi begitu seragam gue naik dikiiittt aja, tuh koyo bakal nampakin diri dengan jumawanya. Gue jadi nyesel, tiap kali dapet schedule ada aja ‘masteng’, gue pasti ngeluh dengan aroma-aroma khasnya yang naudzubillah bin dzalik deh! Tapi seharian itu nyadarin gue, ternyata gue dan mereka masih punya kesamaan. Kalo pegel ya andelannya koyo juga. Duh, maaf ya Mas-Mas, gak lagi-lagi deh ngeluhin kalian, bagaimanapun ‘aroma’ kalian, kalian tetep customer gue deh!

Tak Berjudul


Hamparan bukit yang elok nan indah, ku berhembus sambil menatap kedepan. Dengan pandangan tajam dan nafas yang berat sejenak ku merenungi apa yang telah terjadi saat-saat waktu lalu, penyesalan yang selama ini terus menghantuiku tiba-taba tak terbendungkan, air mata mulai jatuh dari pelupuk mata “Andai, andai, seharusnya, andai” kata itulah yang selalu menghujam dengan penyesalan.
Gue ga tau cara menghangatkan Dia
Gue ga tau cara memegang tangan dia
Gue ga tau cara mengatakan kata-kata romantic
Gue ga tau biar dia merasa aman disisiku
Gue ga tau mengerti perasaan dia
Gue selalu egois dengan sifat polos gue yang selalu menghantui gue
Tapi gue sangat mencintai dia, tidak bisakah itu dijadikan sebuah alasan biar dia tidak pergi dari sisiku?!!
“(menangis) hammmhmmmm gue bener-bener nyesel saat dia sangat membutuhkan gue tapi gue malah tak menggubris permintaannya”
Kini bunga yang mekar nan cantik semakin hari semakin cantik, tak disangka banyak kumbang silih berganti berdatangan, seperti itulah dirinya. Jika dirunut waktu tak terhitung penyesalan yang sudah menghantui diri ini. Tak terasa sore sudah datang, dengan pandangan beku seolah orang ini menyisakan pernyataan-pernyataan yang belum terselesaikan.
Deg!!!!  Dengan pandangan tak percaya, Rio tergaket dengan kehadirannya. Orang yang selama ini dirindukannya, dicintainya, datang didepannya.
Rio:” Dewi!!! Gue mengaku salah, gue mengaku jahat sama lo, gue ga perhatian sama lo, tolong maafin gue, dew dew dew dew!!!!!
Bugg!!! suara jam alarm jatuh di kepalanya, ternyata ini hanya mimpi

To be continued  

Benih Cinta


Cinta itu bikin kita emosi
Kadang kita harus menunggu kedatangannya
Berharap bisa bertemu walaupun hanya satu senyuman
Itulah yang membuat kita bahagia
Tapi disaat kita terus menunggu penuh harap
Kadang kita tak menyangka apa yang akan terjadi
Kecewa, cemburu, kesal karena hanya dia yang harus disampingku
Bukan orang lain juga bukan teman lain
Saat dia bersama orang lain, hanya umpatan yang terlontar dibibir ini
Walaupun sering dikecewakan olehnya
Tapi entah mengapa hati ini luluh sudah jika bersamanya
Dalam ucap, ku bahagia, aku senang, aku serasa bodoh jika bersamanya
Inilah realita, tanpa kemunafikan ini yang dinamakan benih cinta


Copy Right atau Hak Cipta


Pada kali ini gue akan membahas judul diatas tentang Hak Cipta, senang yaah jika kita mendapat sebuah ilmu/info/maupun hal menarik lainnya yang bermanfaat plus gratis lagi diinternet, sebagian dari kita juga nyari-nyari sumber buat bahan kuliah, maupun iseng-iseng baca tulisan orang yang mungkin bertema JOKE maupun hal maslahat lainnya di internet. Apalagi buat para BLOG WALKING yang suka nulis-nulis didinding blognya yaa mungkin hanya sekedar iseng dan yang pasti buat dibaca untuk hal layak, maupun untuk menarik para READER agar rating blognya bagus karena isi blognya yang keren-keren abiz, tapi siapa sangka jika isi dari blognya banyak yang COPAS dari blog sebelah, GA KREATIF GA INNOVATIVE GA IMAJINATIF, gue katakana orang tersebut KLEPTO, Ok untuk para BLOG WALKING yang berpikiran CERDAS sebagian dari mereka pasti akan menaruh SUMBER TULISANNYA pada akhir bacaan, maupun kalo lebih etiket permisi dulu sama orang yang punya tulisan karena tulisannya menarik dan akan dimuat diblognya, NICE !!!! lah kalo orang kaya gini kan enak!!! Udah COPAS tulisan dari blog sebelah tanpa permisi, ga ada sumber dan tanpa babibu eeeehhh NGAKUNYA HASIL KARYA SENDIRI, njengkelin ga t uh orang??? Njengkelin bangetsss guuuusss!!!! LEMPAR PRISTINE aj gussss!!!! Gue lempar Toaster aj ahhh!!! Hal ini terjadi pada tulisan gue yang semena-mena di COPAS pada blog sebelah bahkan aku lihat ada di web orang lain yang secara situs itu ratingnya bagus tapi malah COPAS tulisan milik GUE, MILIK GUE MILIK GUE, tanpa cincong nyomot aja, bahkan isi keseluruhan tulisan gue di OPLOS kaya daging GLONGGONGAN, kesel ga kalo kaya gini???? Kesel banget SUMPEH!!! PAKE SUER DAN PAKE JARI 2 DIACUNGIN. Masalahnya buat sebuah ide untuk tulisan itu butuh pemikiran yang ekstra. Kalo masalah COPAS tulisan, gue juga ada yang COPAS di blog gue tapi gue kasih sumber secara langsung ditulisannya seperti terbitan yang judulnya BELAHAN SYURGA, pada tulisan ini gue dapet ceita langsung dari sumbernya dan gue tuangin pada bentuk tulisan dan kasih sumbernya.
Kesimpulannya
Jika Anda seorang BLOG WALKING yang suka nulis-nulis diblog, tulislah hasil karya sendiri, jikalau mau menCOPAS tulisan orang lain, mintalah ijin dari si pemilik tulisan dan diakhir bacaan kasih sumber tulisan( misal sumber dari http//:agusrich.blogspot.com/its-a-pook-soup/). Jika Anda menCOPAS tulisan orang lain tanpa babibu dan sipemilik tulisan mengetahui dan marah, Anda akan dikenai sanksi hukuman tentang Hak Cipta yang tertuang di Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002. Masalahnya setiap orang itu beda-beda sifatnya dan kemungkinan tulisan itu penting dan sangat penting karena menyangkut IDE.