“jadi
seperti ini kejadiannya pak.” Mas Joko mulai bercerita, semua orang yang ada
diruangan itu, saya, nenek dan kedua keponakan saya mendengarkan dengan
seksama.
Menurut
Mas Joko dua hari kemaren Mba Tuti mulai pulih, entah karena mulai terbiasa
atau tidak peduli lagi, sedikit demi sedikit terror yang dihadapi mulai bisa ia
atasi. Kini ia tidak peduli lagi dengan bayangan hitam yang selalu terlihat
diluar rumahnya menjelang malam tiba. Suara wanita yang terus terngiang
ditelinganya sudah anggap ia biasa. Bahkan terror itu sudah jarang. Mungkin
karena kondisi rumah Mas Joko selalu ramai, menurut Mas Joko ia meminta
tetangganya untuk menginap dirumahnya secara bergantian. Sedangkan ibu
mertuanya sejak Mba Tuti mengalami terror ia memutuskan untuk tinggal disana,
walaupun adik iparnya harus bolak balik mengecek rumah sekedar untuk bersih –
bersih atau mengambil baju ganti.
Menurut
Mas Joko malam itu dirumahnya cukup ramai, ada dua orang perempuan tetangganya
yang menginap. Sedangkan Mas Joko berjaga dibangku depan rumah ditemani adik
iparnya, ketika sedang menikmati segelas kpoi dan rook kreteknya, tiba – tiba
gerimis turun. Memaksa Mas Joko untuk masuk kedalam rumah. Sekitar tengah malam
dan gerimis telah berubah menjadi hujan lebat, semua orang sudah terlelap.
Kecuali Mba Tuti waktu itu yang terbangun karena ingin buang air kecil.
Mba
Tuti tidur diruang tengah ditemani ibu dan dua orang tetangganya yang menginap
disana. Sedangkan Mas Joko tidur disofa ruang tamu. Mba Tuti mencoba
mengguncang – ngguncangkan pelan tubuh ibunya untuk minta ditemani ke kamar
mandi.
Mas
Joko ini memiliki kamar mandi yang terpisah dari rumahnya, dan memiliki sebuah
sumur sebagai sumber air bersih. Maklum didesa Mas Joko yang letaknya cukup
jauh dari kecamatan atau hampir bisa dibilang sangat pelosok, warganya tidak
memiliki akses air bersih yang langsung kerumah – rumah. Ada sebenarnya MCK
yang didirikan sebagai pusat air bersih warga, namun sebagian orang lebih
memilih cara tradisional untuk mendapatkan air bersih agar tidak bolak – balik
mengangkutnya dari MCK, yaitu dengan cara menggali sumur.
Hujan
turun sangat deras disertai angin kencang, malas sebenarnya Mba Tuti harus
pergi kebelakang namun kali ini sudah tidak bisa dikompromi lagi. Karena ibunya
tak kunjung bangun, ia memutuskan untuk pergi sendiri. Namun tiba – tiba lampu
dirumahnya mati, keadaan menjadi gelap guitar. Ia mengambil korek api untuk
menyalakan lilin, yang sudah dipersiapkan sebelumnya, karena warga dikampung
termasuk dikampung saya selalu siaga bila hujan tiba untuk menyiapkan lilin
apalagi kalau hujannya dibarengi petir yang tak henti – henti.
Mba
tuti keluar lewat pintu belakang hanya ditemani cahaya lilin dan paying, tidak
kepikiran waktu itu menurut Mba Tuti akan diganggu hal – hal aneh lagi. Namun
ketika membuka pintu kamar mandi samar – samar dalam derasnya hujan yang
mengguyur atap rumahnya terdengar suara wanita menangis. Mba tuti berhenti
sejenak, untuk memastikan bahwa suara itu memang suara orang bukan suara angin
ataupun air hujan.
Suara
tangisan wanita itu semakin kencang terdengar begitu lirih seperti orang
kesakitan. Dalam hati Mba Tuti mengutuk, dasar setan sialan tak henti –
hentinya menggangguku. Mba tuti mencoba menghiraukan dan langsung masuk kekamar
mandi. Tapi lama – kelamaan suara perempuan itu sedkit mengganggunya, karena
Mba Tuti sudah geram dengan mengenyampingkan rasa takut dia memberanikan diri
untuk mencari arah suara tangisan itu berasal.
Suara
tangisan itu berasal dari arah samping. Mba tuti yang baru selesai keluar dari
kamar mandi langsung membuka pintu. Sebatas mata memandang hanya kegelapan dan
air hujan yang terlihat, Mba Tuti menengok kekiri dan kekanan tapi tak ada
seorangpun terlihat.
“heh
sundal, keluar kau!!” tantang Mba Tuti teriak ditengah malam.
Suara
tangisan itu kini semakin jelas, terdengar dari arah sumur milik Mba Tuti. Mba
Tuti yang merasa ditantang dia keluar tak peduli lagi dengan derasnya air yang
membasahi tubuhnya.
Mba
Tuti mendongak untuk melihat kedasar sumur, dengan susah payah ia mencoba
memecingkan mata yang terhalang cucuran air dari rambutnya. Lilinnya sudah
tentu padam. Begitu kepala Mba Tuti mulai mendongak kebawah suara itu terdengar
lebih jelas.
“dasar
sundal.” Ucap Mba Tuti yang kemudian mengambil batu dari samping rumahnya yang
ukurannya sebesar helm yang ia angkat dengan susah payah.
Byurrr
terdengar bunyi yang menggema didalam sumur yang diikuti dengan jeritan suara
perempuan. Untuk sejenak suara perempuan itu hilang, Mba Tuti yang merasa sudah
puas mendongak lagi untuk mengecek didalam sumur. Terlihat sesosok tubuh dengan
rambut basah tergerai panjang menggelantung ditali timba sumur. Dalam sekejap
keberanian Mba Tuti luntur dan membuatnya tersentak kaget bukan main.
Tubuh
Mba Tuti lemas tidak berdaya, dia masih terduduk ditanah menyaksikkan tali
timba yan terus bergerak seperti ada seseorang yang sedang menariknya dari
bawah. Mba Tuti mencoba berteriak memanggil suaminya namun suara hujan yang
deras telah meredam suaranya. Mba Tuti tak sadarkan diri saat melihat sesosok
wanita yang hendak menyeret kakinya agar ikut masuk kedalam sumur.
Mba
Tuti ditemukan dipinggir bibir sumur dan hampir aja nyemplung kebawah sekitar
jam 4 subuh oleh ibunya yang menyadari karena anaknya tidak ada dikasur.
Peristiwa itu menggemparkan warga kampung, karena mungkin dua tetangga Mas Joko
yang malam itu menginap membeberkannya ke warga yang lain. Bahkan menurut Mas
Joko beberapa warga sampai datang menjenguk juga, karena isu yang berkembang
dimasyarakat katanya Mba Tuti mau bunuh diri dengan cara terjun kedalam sumur.
Ketika
Mas Joko menimba air sumur untuk mengisi bak mandinya secara tak sengaja dalam
ember air yang ia tarik terdapat bungkusan pocong kecil seperti dulu yang
ditemukan Mas Joko dibawah batu. Rupanya si pengganggu belum kapok – kapok.
“ini
pak ditemukan lagi.” Ucap Mas Joko setelah selesai menceritakan peristiwa
istrinya sambil menyodorkan pocongan kecil.
Karena
kakek tak tega mendengar cerita Mas Joko dengan terpaksa dia mau turun tangan
lagi karena menurut kakek ini sudah keterlaluan. Kalau niatnya Cuma ngasih
pelajaran mungkin masih bisa ditolerir tapi ini sudah niat mencelakakan.
Keesokan
harinya, sekitar jam 3 sore keluarga saya datang kerumah Mas Joko, saya memakai
motor pinjaman dari adik kakek untuk membonceng kedua keponakan saya. Mba Tuti
terlihat memprihatinkan ketika kami datang kesana, tubuhnya tampak kurus
tinggal tulang yang tebalut kulit. Kehidupannya tak tenang, terror yang terus
dialaminya membuat hidupnya berantakan.
Sebelum
kami pulang kakek berpesan pada Mas Joko, agar jangan membiarkan Mba Tuti
sendirian keluar rumah, si pelaku santet tak erani masuk rumah karena sudah
dihalangi pagar ghoib maka dia berusaha mengajak si korban keluar rumah untuk
diperdaya.
Keesokan
harinya setelah pulang dari rumah Mas Joko, saya diajak kakek untuk menemui
seorang pria yang ternyata adalah seorang paranormal cukup terkenal dikampung
saya. Jadi dikampung saya itu ada seorang pria tua yang cukup tersohor, banyak
orang – orang besar dari kota yang datang kerumahnya.
Tak
bisa dipungkiri, percaya atau tidak memang masih banyak orang – orang yang
datang ke orang pintar atau paranormal untuk meminta restu agar semua urusannya
lancer. Masalah bisnis, pencalonan diri menjadi aparatur Negara sampai masalah
kecil seperti ingin lolos tes cpns banyak dari kita menggunakan jasa mereka
atau bahkan datang ketempat – tempat keramat. Saya tak mengerti apakah ini
termasuk menyekutukan Tuhan atau tidak tapi begitulah adanya, tapi jangan berpikir
bahwa datang ketempat keramat hanya sebatas yang terlihat di TV saj bahwa
ritualnya meakutkan dan menyeramkan, semuanya terlihat biasa bahkan normal –
normal saja.
Saya
tidak begitu kenal dengan pria tua ini, karena jarang bergaul dengan warga
mungkin karena terlalu sibuk dengan tamu – tamu kotanya itu. Yang pasti seluruh
kampung sudah tahu pria tua ini dengan nama yang akan saya samarkan. Aki merah
begitu mungkin saya akan menyebutnya karena saat pertama kali melihatnya dia
mengenakan baju merah.
Ketika
kami datang ki merah sedang asyik memandikan burung perkututnya, kebetulan hari
ini tidak ada tamu yang datang kerumahnya. Ketika basa – basi selesai dan kami
dipersilakan masuk, mimic muka kakek yang tadinya ramah kini berubah menjadi
serius.
“sudahlah
ki, akhiri semuanya!.” Ucap kakek pada ki merah.
Entah
benar – benar tidak mengerti atau hanya pura – pura ki merah tampak kebingungan
dengan ucapan kakek. Dia menatap kakek lekat – lekat dengan rasa penuh curiga.
“kasihan,
dia masih muda. Apa pengalaman yang dulu tidak membuat aki belajar.” Seakan
tidak peduli dengan mimic ki merah, kakek terus melanjutkan ucapannya.
“apa
maksudmu?” ki merah akhirnya merespon.
“entah
ada yang menyuruh aki atau aki sendiri yang punya urusan dengan orang ini.
Tolong
jangan ganggu dia lagi, saya benar – benar memohon kali ini. Istrinya tampak
menderita karena ulah aki.” Kakek masih tetap melanjutkan ucapannya dan tidak
menggubris pertanyaan ki merah.
Usai
menyampaikan permohonannya kakek mengajak saya untuk pergi meninggalkan ki
merah dengan wajah penuh tanda Tanya. Sempat terbesit juga dalam benak saya,
apa yang sebenarnya sedang dilakukan kakek. Jikapun kakek sudah mengetahui
orang yang telah mengganggu keluarga Mas Joko, apakah aki merah orangnya apakah
kakek tidak salah melemparkan tuduhan tersebut?
Ingin
rasanya saya bertanya tentang ulahnya tadi siang dirumah aki merah, tapi
melihat mimic muka kakek yang tidak seperti biasanya membungkam keberanian saya
untuk bertanya. Mungkin kita biarkan saja waktu yang akan menjawabnya, saya
hanya penonton biasa yang hanya ikut menyimak.
Sore
hari sepulang dari rumah aki merah, rumah saya kedatangan tiga tamu. Satu pria
dengan kumis lebat mengenakan peci hitam dan dua pria lagi mengenakan kaos
oblong biasa yang dibalut dengan jaket kulit berwarna coklat. Saya tidak
mengenal pria tersebut, yang pasti bukan warga dari kampung saya. Begitu
dipersilahkan masuk mereka segera duduk. Si pria berpeci hitam yang ternyata
setelah memperkenalkan diri adalah seorang lurah dari kampung Mas Joko.
“ada
apa pak?” ucap kakek.
Pak
lurah mulai menceritakan kejadian dikampungnya, bahwa Mas Joko hampir saja
membunuh salah satu warganya, untung hal tersebut masih bisa dicegah sehingga
tidak ada korban. Kejadian itu berlangsung saat warga terlelap tidur sekitar
jam 10 malam, warga yang terbangun karena mendengar suara teriakan minta tolong
dari seorang pria.
Lantas
setelah Mas Joko dan warga yang jadi sasaran kemarahan Mas Joko ini dibawa ke
balai desa, maka masalah ini mulai terungkap disana. Mas Joko merasa curiga
bahwa pria yang ternyata sorang pegawai perkebunan tebu ini menjadi ulah dari
guna – guna istrinya. Tadinya pak lurah berniat akan membawa masalah ini ke
polisi, tapi takutnya terjadi salah paham maka pria berpeci hitam tersebut
bilang kepada kakek bahwa sebelum masalah ini dibawah keranah hukum, ia ingin
menyelesaikan dulu secara kekeluargaan.
“dan
saya mendengar bahwa Joko berobat atau konsultasi dengan bapak, apakah bapak
yang member tahu pelaku guna – guna istrinya itu?” ucap pak lurah.
Kakek
merasa kaget mendengar kabar tersebut, tentu saja dia belum pernah berbicara
apapun masalah pelaku ataupun orang yang ada dibelakang santet istrinya. Kenapa
Mas Joko gegabah bertindak tanpa membritahu dahulu, kalau begini Mas Joko malah
menyeret kakek masuk kedalam masalah. Hendak menolong anjing yang terjepit tapi
balasan terima kasihnya malah menggigit.
Agar
semua beres dan jelas, maka kakek bersedia datang kekampung Mas Joko untuk
musyawarah dib alai desa menyelesaikan masalahnya. Saya ikut membonceng kakek,
sekaligus ingin menjawab rasa penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.
Begitu kami sampai, keadaan didalam ruangan balai desa sudah ramai oleh warga,
didepan terlihat Mas Joko yang sedang duduk dikursi kayu sebelah kanan,
sedangkan diarah berlawanan tampak seorang pria yang juga duduk dengan wajah
gelisah penuh ketakutan. Baru belakangan saya tahu bahwa pria yang hampir saja
jadi sasaran amukan Mas Joko ini bernama Mas Kardi.
Pak
lurah mulai membuka musyawarah. Saya duduk bersama warga lainnya, sedangkan
kakek berada didepan bersama pak lurah. Suasana dibalai desa mirip sekali
diruang persidangan, Mas Joko sebagai terdakwa, Mas Kardi sebagai korban
sedangkan pak lurah tampak seperti hakim pengadilan.
“kenapa
kamu ungin membunuh kardi?” Tanya pak lurah.
“karena
dia sudah mengguna – guna istri saya, kampret kau kardi!!!” teriak Mas Joko
dengan penuh amarah.
“saya
tidak melakukan apapun pada istrinya pak lurah, siapa bilang bahwa aku
pelakunya. Apakah dia… dia si dukun sialan itu yang memberitahumu, sehingga
timbul fitnah ini.” Mas Kardi tak kalah geram sambil menunjuk – nunjuk muka
kakek yang masih santai duduk disamping pak lurah.
Jujur
saya sedikit tersinggung ketika kakek dikatakan dukun sialan oleh Mas Kardi.
Pertama kakek saya bukan dukun dan tidak membuka praket, kedua manusia sialan
tidak akan mau membantu orang lain apalagi pertolongan itu bisa membahayakan
keluarganya. Mungkin kakek saya bukan malaikat yang seratus persen orang baik
dan sempurna, tapi tetap saja saya merasa marah ketika mendengar ucapan Mas
Kardi. Semua mata tertuju pada kakek termasuk pak lurah, tanpa perlu ditanya
lagi kakek kemudian membuka mulut.
“jok
apa saya pernah mengucapkan satu nama terkait pelaku yang mengguna – guna
istrimu.”
Mas
Joko hanya diam tak memberikan jawaban apapun, wajahnya tertunduk mungkin
karena malu. Pak lurah mengulang pertanyaan kakek kepada Mas Joko untuk
mendapatkan jawaban pasti.
“memang
tidak pak, tapi si kardi ini kan dulu sempat berhubungan dengan tuti sebelum
akhirnya saya menikahinya. Lagian tadi malam dia terlihat lewat dirumah saya
malam – malam sudah barang tentu dia pelakunya pak lurah.” Ucap Mas Joko masih
dengan nada geram.
“saya
semalam hanya lewat pak lurah, tidak maksud apa – apa. Lagian istrimu emang
bidadari?! Masih banyak wanita cantik diluar sana yang bisa saya dapatkan.”
Ucap mas kardi yang tak kalah emosi.
Ketika
mas kardi mau berkata lagi, Mas Joko beranjak dari duduknya dan meloncat sambil
melayangkan satu pukulan tepat dipipi sebelah kiri mas kardi. Suasana dib alai
desa kembali riuh, ada warga yang sibuk menarik Mas Joko agar tidak berkelahi,
namun sebagian lagi bersorak ketawa – ketiwi menyaksikan adegan yang jarang
terjadi ini.
Mas
Kardi yang merasa dirinya dilecehkan karena dipukul dimuka umum merasa marah
dan balik ingin menyerang, tentu saja hal ini membuat warga kerepotan memisah
dua pria yang sedang dikuasai amarah ini. Hampir lima belas menit kegaduhan
berlangsung, hingga keadaan kembali kondusif. Kedua pria yang berkelahi ini
kembali duduk tenang dengan kawalan beberapa warga disampingnya, sekedar jaga –
jaga agar kerusuhan tidak terulang kembali.
“saya
sedikitpun tidak mengganggu istrinya pak lurah. Memang apa buktinya kalau saya
yang melakukan guna – guna itu hah?! Lagian saya baru tahu kalau istrinya
diguna – guna pak lurah. Bukankah dari kabar yang saya dengar istrinya mau
bunuh diri disumur belakang rumahnya. Lalu sekarang di marah – marah menuduhku
yang tidak – tidak. Apakah ini cara kau saja untuk mencari kambing hitam atas
ketidak becusanmu mengurus istri?” bentak mas kardi yang mungkin merasa emosi
karena pukulan Mas Joko belum ia balas.
Mas
Joko hendak kembali meloncat dan melayangkan pukulan, namun kali ini ada dua
orang warga yang menahannya. Begitu juga mas kardi yang kedua tangannya
dipegang warga lainnya seperti seorang tahanan. Pak lurah tampak kebingungan,
apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan pertikaian kedua warganya ini.
Setelah berpikir cukup lama, dan membiarkan mas kardi dan Mas Joko beradu
mulut, akhirnya pak lurah menggebrak meja. Keadaan menjadi hening semua mata
tertuju kepada pak lurah.
“begini
saja, agar semuanya beres. Kita tak punya bukti bahwa mas kardi yang menyantet
istrinya joko. Tapi untuk menghilangkan rasa penasaran joko yang menuduh bahwa
kardi pelakunya, mari kita Tanya saja ke ahlinya. Orang yang lebih ngerti
tentang hal – hal seperti ini.” Ucap pak lurah, yang kemudian memalingkan
pandangannya kepada kakek saya.
“menurut
bapak yang lebih ngerti tentang hal – hal seperti ini. Sebenernya siapa yang
telah tega mengguna – guna istrinya si joko ni, apakah kardi orangnya atau ada
orang lain?
Mendengar
pertanyaan pak lurah, mimic muka kakek tampak kebingungan, apa yang harus dia
katakana sekarang. Ditambah semua mata warga tertuju padanya. Kedaan hening,
semua warga terlihat serius siap – siap mendengar ucapan yang akan keluar dari
mulut kakek saya, hingga akhirnya kakek menarik nafas dalam – dalam sebelum ia
mulai berbicara.



Posting Komentar