SANTET (Witchcraft) - Chapter 9



“jadi seperti ini kejadiannya pak.” Mas Joko mulai bercerita, semua orang yang ada diruangan itu, saya, nenek dan kedua keponakan saya mendengarkan dengan seksama.

Menurut Mas Joko dua hari kemaren Mba Tuti mulai pulih, entah karena mulai terbiasa atau tidak peduli lagi, sedikit demi sedikit terror yang dihadapi mulai bisa ia atasi. Kini ia tidak peduli lagi dengan bayangan hitam yang selalu terlihat diluar rumahnya menjelang malam tiba. Suara wanita yang terus terngiang ditelinganya sudah anggap ia biasa. Bahkan terror itu sudah jarang. Mungkin karena kondisi rumah Mas Joko selalu ramai, menurut Mas Joko ia meminta tetangganya untuk menginap dirumahnya secara bergantian. Sedangkan ibu mertuanya sejak Mba Tuti mengalami terror ia memutuskan untuk tinggal disana, walaupun adik iparnya harus bolak balik mengecek rumah sekedar untuk bersih – bersih atau mengambil baju ganti.

Menurut Mas Joko malam itu dirumahnya cukup ramai, ada dua orang perempuan tetangganya yang menginap. Sedangkan Mas Joko berjaga dibangku depan rumah ditemani adik iparnya, ketika sedang menikmati segelas kpoi dan rook kreteknya, tiba – tiba gerimis turun. Memaksa Mas Joko untuk masuk kedalam rumah. Sekitar tengah malam dan gerimis telah berubah menjadi hujan lebat, semua orang sudah terlelap. Kecuali Mba Tuti waktu itu yang terbangun karena ingin buang air kecil.

Mba Tuti tidur diruang tengah ditemani ibu dan dua orang tetangganya yang menginap disana. Sedangkan Mas Joko tidur disofa ruang tamu. Mba Tuti mencoba mengguncang – ngguncangkan pelan tubuh ibunya untuk minta ditemani ke kamar mandi.

Mas Joko ini memiliki kamar mandi yang terpisah dari rumahnya, dan memiliki sebuah sumur sebagai sumber air bersih. Maklum didesa Mas Joko yang letaknya cukup jauh dari kecamatan atau hampir bisa dibilang sangat pelosok, warganya tidak memiliki akses air bersih yang langsung kerumah – rumah. Ada sebenarnya MCK yang didirikan sebagai pusat air bersih warga, namun sebagian orang lebih memilih cara tradisional untuk mendapatkan air bersih agar tidak bolak – balik mengangkutnya dari MCK, yaitu dengan cara menggali sumur.

Hujan turun sangat deras disertai angin kencang, malas sebenarnya Mba Tuti harus pergi kebelakang namun kali ini sudah tidak bisa dikompromi lagi. Karena ibunya tak kunjung bangun, ia memutuskan untuk pergi sendiri. Namun tiba – tiba lampu dirumahnya mati, keadaan menjadi gelap guitar. Ia mengambil korek api untuk menyalakan lilin, yang sudah dipersiapkan sebelumnya, karena warga dikampung termasuk dikampung saya selalu siaga bila hujan tiba untuk menyiapkan lilin apalagi kalau hujannya dibarengi petir yang tak henti – henti.

Mba tuti keluar lewat pintu belakang hanya ditemani cahaya lilin dan paying, tidak kepikiran waktu itu menurut Mba Tuti akan diganggu hal – hal aneh lagi. Namun ketika membuka pintu kamar mandi samar – samar dalam derasnya hujan yang mengguyur atap rumahnya terdengar suara wanita menangis. Mba tuti berhenti sejenak, untuk memastikan bahwa suara itu memang suara orang bukan suara angin ataupun air hujan.
Suara tangisan wanita itu semakin kencang terdengar begitu lirih seperti orang kesakitan. Dalam hati Mba Tuti mengutuk, dasar setan sialan tak henti – hentinya menggangguku. Mba tuti mencoba menghiraukan dan langsung masuk kekamar mandi. Tapi lama – kelamaan suara perempuan itu sedkit mengganggunya, karena Mba Tuti sudah geram dengan mengenyampingkan rasa takut dia memberanikan diri untuk mencari arah suara tangisan itu berasal.

Suara tangisan itu berasal dari arah samping. Mba tuti yang baru selesai keluar dari kamar mandi langsung membuka pintu. Sebatas mata memandang hanya kegelapan dan air hujan yang terlihat, Mba Tuti menengok kekiri dan kekanan tapi tak ada seorangpun terlihat.

“heh sundal, keluar kau!!” tantang Mba Tuti teriak ditengah malam.

Suara tangisan itu kini semakin jelas, terdengar dari arah sumur milik Mba Tuti. Mba Tuti yang merasa ditantang dia keluar tak peduli lagi dengan derasnya air yang membasahi tubuhnya.

Mba Tuti mendongak untuk melihat kedasar sumur, dengan susah payah ia mencoba memecingkan mata yang terhalang cucuran air dari rambutnya. Lilinnya sudah tentu padam. Begitu kepala Mba Tuti mulai mendongak kebawah suara itu terdengar lebih jelas.

“dasar sundal.” Ucap Mba Tuti yang kemudian mengambil batu dari samping rumahnya yang ukurannya sebesar helm yang ia angkat dengan susah payah.

Byurrr terdengar bunyi yang menggema didalam sumur yang diikuti dengan jeritan suara perempuan. Untuk sejenak suara perempuan itu hilang, Mba Tuti yang merasa sudah puas mendongak lagi untuk mengecek didalam sumur. Terlihat sesosok tubuh dengan rambut basah tergerai panjang menggelantung ditali timba sumur. Dalam sekejap keberanian Mba Tuti luntur dan membuatnya tersentak kaget bukan main.
Tubuh Mba Tuti lemas tidak berdaya, dia masih terduduk ditanah menyaksikkan tali timba yan terus bergerak seperti ada seseorang yang sedang menariknya dari bawah. Mba Tuti mencoba berteriak memanggil suaminya namun suara hujan yang deras telah meredam suaranya. Mba Tuti tak sadarkan diri saat melihat sesosok wanita yang hendak menyeret kakinya agar ikut masuk kedalam sumur.

Mba Tuti ditemukan dipinggir bibir sumur dan hampir aja nyemplung kebawah sekitar jam 4 subuh oleh ibunya yang menyadari karena anaknya tidak ada dikasur. Peristiwa itu menggemparkan warga kampung, karena mungkin dua tetangga Mas Joko yang malam itu menginap membeberkannya ke warga yang lain. Bahkan menurut Mas Joko beberapa warga sampai datang menjenguk juga, karena isu yang berkembang dimasyarakat katanya Mba Tuti mau bunuh diri dengan cara terjun kedalam sumur.

Ketika Mas Joko menimba air sumur untuk mengisi bak mandinya secara tak sengaja dalam ember air yang ia tarik terdapat bungkusan pocong kecil seperti dulu yang ditemukan Mas Joko dibawah batu. Rupanya si pengganggu belum kapok – kapok.

“ini pak ditemukan lagi.” Ucap Mas Joko setelah selesai menceritakan peristiwa istrinya sambil menyodorkan pocongan kecil.

Karena kakek tak tega mendengar cerita Mas Joko dengan terpaksa dia mau turun tangan lagi karena menurut kakek ini sudah keterlaluan. Kalau niatnya Cuma ngasih pelajaran mungkin masih bisa ditolerir tapi ini sudah niat mencelakakan.

Keesokan harinya, sekitar jam 3 sore keluarga saya datang kerumah Mas Joko, saya memakai motor pinjaman dari adik kakek untuk membonceng kedua keponakan saya. Mba Tuti terlihat memprihatinkan ketika kami datang kesana, tubuhnya tampak kurus tinggal tulang yang tebalut kulit. Kehidupannya tak tenang, terror yang terus dialaminya membuat hidupnya berantakan.

Sebelum kami pulang kakek berpesan pada Mas Joko, agar jangan membiarkan Mba Tuti sendirian keluar rumah, si pelaku santet tak erani masuk rumah karena sudah dihalangi pagar ghoib maka dia berusaha mengajak si korban keluar rumah untuk diperdaya.

Keesokan harinya setelah pulang dari rumah Mas Joko, saya diajak kakek untuk menemui seorang pria yang ternyata adalah seorang paranormal cukup terkenal dikampung saya. Jadi dikampung saya itu ada seorang pria tua yang cukup tersohor, banyak orang – orang besar dari kota yang datang kerumahnya.

Tak bisa dipungkiri, percaya atau tidak memang masih banyak orang – orang yang datang ke orang pintar atau paranormal untuk meminta restu agar semua urusannya lancer. Masalah bisnis, pencalonan diri menjadi aparatur Negara sampai masalah kecil seperti ingin lolos tes cpns banyak dari kita menggunakan jasa mereka atau bahkan datang ketempat – tempat keramat. Saya tak mengerti apakah ini termasuk menyekutukan Tuhan atau tidak tapi begitulah adanya, tapi jangan berpikir bahwa datang ketempat keramat hanya sebatas yang terlihat di TV saj bahwa ritualnya meakutkan dan menyeramkan, semuanya terlihat biasa bahkan normal – normal saja.
Saya tidak begitu kenal dengan pria tua ini, karena jarang bergaul dengan warga mungkin karena terlalu sibuk dengan tamu – tamu kotanya itu. Yang pasti seluruh kampung sudah tahu pria tua ini dengan nama yang akan saya samarkan. Aki merah begitu mungkin saya akan menyebutnya karena saat pertama kali melihatnya dia mengenakan baju merah.

Ketika kami datang ki merah sedang asyik memandikan burung perkututnya, kebetulan hari ini tidak ada tamu yang datang kerumahnya. Ketika basa – basi selesai dan kami dipersilakan masuk, mimic muka kakek yang tadinya ramah kini berubah menjadi serius.

“sudahlah ki, akhiri semuanya!.” Ucap kakek pada ki merah.
Entah benar – benar tidak mengerti atau hanya pura – pura ki merah tampak kebingungan dengan ucapan kakek. Dia menatap kakek lekat – lekat dengan rasa penuh curiga.

“kasihan, dia masih muda. Apa pengalaman yang dulu tidak membuat aki belajar.” Seakan tidak peduli dengan mimic ki merah, kakek terus melanjutkan ucapannya.

“apa maksudmu?” ki merah akhirnya merespon.

“entah ada yang menyuruh aki atau aki sendiri yang punya urusan dengan orang ini. 

Tolong jangan ganggu dia lagi, saya benar – benar memohon kali ini. Istrinya tampak menderita karena ulah aki.” Kakek masih tetap melanjutkan ucapannya dan tidak menggubris pertanyaan ki merah.

Usai menyampaikan permohonannya kakek mengajak saya untuk pergi meninggalkan ki merah dengan wajah penuh tanda Tanya. Sempat terbesit juga dalam benak saya, apa yang sebenarnya sedang dilakukan kakek. Jikapun kakek sudah mengetahui orang yang telah mengganggu keluarga Mas Joko, apakah aki merah orangnya apakah kakek tidak salah melemparkan tuduhan tersebut?

Ingin rasanya saya bertanya tentang ulahnya tadi siang dirumah aki merah, tapi melihat mimic muka kakek yang tidak seperti biasanya membungkam keberanian saya untuk bertanya. Mungkin kita biarkan saja waktu yang akan menjawabnya, saya hanya penonton biasa yang hanya ikut menyimak.

Sore hari sepulang dari rumah aki merah, rumah saya kedatangan tiga tamu. Satu pria dengan kumis lebat mengenakan peci hitam dan dua pria lagi mengenakan kaos oblong biasa yang dibalut dengan jaket kulit berwarna coklat. Saya tidak mengenal pria tersebut, yang pasti bukan warga dari kampung saya. Begitu dipersilahkan masuk mereka segera duduk. Si pria berpeci hitam yang ternyata setelah memperkenalkan diri adalah seorang lurah dari kampung Mas Joko.

“ada apa pak?” ucap kakek.

Pak lurah mulai menceritakan kejadian dikampungnya, bahwa Mas Joko hampir saja membunuh salah satu warganya, untung hal tersebut masih bisa dicegah sehingga tidak ada korban. Kejadian itu berlangsung saat warga terlelap tidur sekitar jam 10 malam, warga yang terbangun karena mendengar suara teriakan minta tolong dari seorang pria.
Lantas setelah Mas Joko dan warga yang jadi sasaran kemarahan Mas Joko ini dibawa ke balai desa, maka masalah ini mulai terungkap disana. Mas Joko merasa curiga bahwa pria yang ternyata sorang pegawai perkebunan tebu ini menjadi ulah dari guna – guna istrinya. Tadinya pak lurah berniat akan membawa masalah ini ke polisi, tapi takutnya terjadi salah paham maka pria berpeci hitam tersebut bilang kepada kakek bahwa sebelum masalah ini dibawah keranah hukum, ia ingin menyelesaikan dulu secara kekeluargaan.

“dan saya mendengar bahwa Joko berobat atau konsultasi dengan bapak, apakah bapak yang member tahu pelaku guna – guna istrinya itu?” ucap pak lurah.

Kakek merasa kaget mendengar kabar tersebut, tentu saja dia belum pernah berbicara apapun masalah pelaku ataupun orang yang ada dibelakang santet istrinya. Kenapa Mas Joko gegabah bertindak tanpa membritahu dahulu, kalau begini Mas Joko malah menyeret kakek masuk kedalam masalah. Hendak menolong anjing yang terjepit tapi balasan terima kasihnya malah menggigit.

Agar semua beres dan jelas, maka kakek bersedia datang kekampung Mas Joko untuk musyawarah dib alai desa menyelesaikan masalahnya. Saya ikut membonceng kakek, sekaligus ingin menjawab rasa penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Begitu kami sampai, keadaan didalam ruangan balai desa sudah ramai oleh warga, didepan terlihat Mas Joko yang sedang duduk dikursi kayu sebelah kanan, sedangkan diarah berlawanan tampak seorang pria yang juga duduk dengan wajah gelisah penuh ketakutan. Baru belakangan saya tahu bahwa pria yang hampir saja jadi sasaran amukan Mas Joko ini bernama Mas Kardi.

Pak lurah mulai membuka musyawarah. Saya duduk bersama warga lainnya, sedangkan kakek berada didepan bersama pak lurah. Suasana dibalai desa mirip sekali diruang persidangan, Mas Joko sebagai terdakwa, Mas Kardi sebagai korban sedangkan pak lurah tampak seperti hakim pengadilan.

“kenapa kamu ungin membunuh kardi?” Tanya pak lurah.

“karena dia sudah mengguna – guna istri saya, kampret kau kardi!!!” teriak Mas Joko dengan penuh amarah.

“saya tidak melakukan apapun pada istrinya pak lurah, siapa bilang bahwa aku pelakunya. Apakah dia… dia si dukun sialan itu yang memberitahumu, sehingga timbul fitnah ini.” Mas Kardi tak kalah geram sambil menunjuk – nunjuk muka kakek yang masih santai duduk disamping pak lurah.

Jujur saya sedikit tersinggung ketika kakek dikatakan dukun sialan oleh Mas Kardi. Pertama kakek saya bukan dukun dan tidak membuka praket, kedua manusia sialan tidak akan mau membantu orang lain apalagi pertolongan itu bisa membahayakan keluarganya. Mungkin kakek saya bukan malaikat yang seratus persen orang baik dan sempurna, tapi tetap saja saya merasa marah ketika mendengar ucapan Mas Kardi. Semua mata tertuju pada kakek termasuk pak lurah, tanpa perlu ditanya lagi kakek kemudian membuka mulut.

“jok apa saya pernah mengucapkan satu nama terkait pelaku yang mengguna – guna istrimu.”

Mas Joko hanya diam tak memberikan jawaban apapun, wajahnya tertunduk mungkin karena malu. Pak lurah mengulang pertanyaan kakek kepada Mas Joko untuk mendapatkan jawaban pasti.

“memang tidak pak, tapi si kardi ini kan dulu sempat berhubungan dengan tuti sebelum akhirnya saya menikahinya. Lagian tadi malam dia terlihat lewat dirumah saya malam – malam sudah barang tentu dia pelakunya pak lurah.” Ucap Mas Joko masih dengan nada geram.

“saya semalam hanya lewat pak lurah, tidak maksud apa – apa. Lagian istrimu emang bidadari?! Masih banyak wanita cantik diluar sana yang bisa saya dapatkan.” Ucap mas kardi yang tak kalah emosi.

Ketika mas kardi mau berkata lagi, Mas Joko beranjak dari duduknya dan meloncat sambil melayangkan satu pukulan tepat dipipi sebelah kiri mas kardi. Suasana dib alai desa kembali riuh, ada warga yang sibuk menarik Mas Joko agar tidak berkelahi, namun sebagian lagi bersorak ketawa – ketiwi menyaksikan adegan yang jarang terjadi ini.
Mas Kardi yang merasa dirinya dilecehkan karena dipukul dimuka umum merasa marah dan balik ingin menyerang, tentu saja hal ini membuat warga kerepotan memisah dua pria yang sedang dikuasai amarah ini. Hampir lima belas menit kegaduhan berlangsung, hingga keadaan kembali kondusif. Kedua pria yang berkelahi ini kembali duduk tenang dengan kawalan beberapa warga disampingnya, sekedar jaga – jaga agar kerusuhan tidak terulang kembali.

“saya sedikitpun tidak mengganggu istrinya pak lurah. Memang apa buktinya kalau saya yang melakukan guna – guna itu hah?! Lagian saya baru tahu kalau istrinya diguna – guna pak lurah. Bukankah dari kabar yang saya dengar istrinya mau bunuh diri disumur belakang rumahnya. Lalu sekarang di marah – marah menuduhku yang tidak – tidak. Apakah ini cara kau saja untuk mencari kambing hitam atas ketidak becusanmu mengurus istri?” bentak mas kardi yang mungkin merasa emosi karena pukulan Mas Joko belum ia balas.

Mas Joko hendak kembali meloncat dan melayangkan pukulan, namun kali ini ada dua orang warga yang menahannya. Begitu juga mas kardi yang kedua tangannya dipegang warga lainnya seperti seorang tahanan. Pak lurah tampak kebingungan, apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan pertikaian kedua warganya ini. Setelah berpikir cukup lama, dan membiarkan mas kardi dan Mas Joko beradu mulut, akhirnya pak lurah menggebrak meja. Keadaan menjadi hening semua mata tertuju kepada pak lurah.

“begini saja, agar semuanya beres. Kita tak punya bukti bahwa mas kardi yang menyantet istrinya joko. Tapi untuk menghilangkan rasa penasaran joko yang menuduh bahwa kardi pelakunya, mari kita Tanya saja ke ahlinya. Orang yang lebih ngerti tentang hal – hal seperti ini.” Ucap pak lurah, yang kemudian memalingkan pandangannya kepada kakek saya.

“menurut bapak yang lebih ngerti tentang hal – hal seperti ini. Sebenernya siapa yang telah tega mengguna – guna istrinya si joko ni, apakah kardi orangnya atau ada orang lain?

Mendengar pertanyaan pak lurah, mimic muka kakek tampak kebingungan, apa yang harus dia katakana sekarang. Ditambah semua mata warga tertuju padanya. Kedaan hening, semua warga terlihat serius siap – siap mendengar ucapan yang akan keluar dari mulut kakek saya, hingga akhirnya kakek menarik nafas dalam – dalam sebelum ia mulai berbicara.





Posting Komentar