SANTET (Witchcraft) - Chapter 10



“Jika saya memberitahukan siapa pelakunya apa yang akan kalian lakukan?” Tanya kakek saya kepada warga yang berkumpul disana.

“tentu saja kita akan menangkapnya, masalah pengadilan kita tentukan nanti, apa mau kita adili sendiri atau dibawa ke kantor polisi?” celetuk salah satu warga.

“memang kalian bisa menjamin bahwa ucapan saya benar?” jawab kakek.
“tentu saja bapak kan seorang dukun.” Jawab warga lain yang sepertinya tampak semangat.

“baik. Pertama saya sangat tidak nyaman dibilang seorang dukun, karena saya tidak membuka praktek. Saya hanya berniat membantu Joko, karena kasihan melihat istrinya. 
Kedua, apa bapak – bapak disini punya bukti penguat bahwa ucapan saya benar?”
Setiap warga saling berpandangan, wajah mereka tampak kebingungan termasuk juga pak lurah. Tentu saja ucapan kakek benar, jika kakek saya menyebutkan nama baru, sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah, tapi hanya mengalihkan kebencian pada orang baru lainnya.

“jadi apa yang harus kita lakukan sekarang sekarang pak lurah?” ucap warga yang tampak tidak sabar.

Pak lurah masih diam dan belum mengambil keputusan, sementara warga saling berbisik berbicara dibelakang saling bertukar pendapat apa yang seharusnya mereka lakukan. Musyawarah ini berjalan begitu a lot, hingga tak terasa adzan maghrib terdengar.
Begitu adzan selesai berkumandang, tiba – tiba pak lurah bangun dari duduknya. Bisikan – bisikan dibelakang seketika berhenti, semua mata tertuju kepada pak lurah.

“begini saja, agar cepat beres dan tidak ada lagi kecurigaan. Bagaimana kalau si kardi di sumpah pocong.” Pernyataan pak lurah membuat semua orang kaget.

“bila kamu benar – benar tak bersalah seharusnya tidak keberatan kardi?” ucap pak lurah menatap mas kardi, yang kemudian disusul gemuruh suara warga mengiyakan pendapat pak lurah tersebut.

“tentu saja saya tidak keberatan.” Jawab mas kardi dengan sedikit ragu, mungkin dia merasa merinding mendengar nama sumpah yang jarang dilakukan ini.

Akhirnya keputusan pak lurah bisa sedikit meredam rasa kesal warga, termasuk Mas Joko mungkin. Setelah itu pak lurah mengumumkan bahwa sumpah akan dilakukan setelah adzan isya di mesjid, kemudian ia memerintahkan beberapa warga untuk menyiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk  kelangsungan sumpah pocong nanti, seperti kain kafan. Sebenarnya kakek mau berpendapat tapi melihat antusias warga yang begitu semangat, maka kakek memutuskan untuk setuju saja, setidaknya kecurigaan ini tidak berakhir dengan kekerasan.

Saya tidak terlalu paham dengan konsep sumpah pocong, tapi pendapat beberapa orang sumpah ini ada karena percampuran agama dan tradisi budaya ketimuran, khususnya di pulau jawa. Jadi menurut kepercayaan warga stetmpat, sumpah pocong dilakukan oleh seseorang yang dicurigai berkata bohong, konon bila si pembohong melakukan sumpah pocong maka kesialan atau bahkan bencana bisa menyelimutinya seumur hidup. Sumpah ini dianggap bisa menyelesaikan masalah yang tidak bisa diselesaikan dipengadilan. Tapi di era modernisasi seperti sekarang, rasanya jarang orang yang melakukan cara – cara seperti ini.

Sekitar setengah delapan malam, banyak warga berkumpul dihalaman depan masjid. Mereka penasaran dengan kejadian langka seperti ini, entah bagaimana caranya kabar tentang sumpah pocong ini cepat sekali merebak dikalangan warga.
Mas kardi yang baru selesai dimandikan, kini tubuhnya sedang dibungkus dengan kain kafan, melihat pemandangan seperti itu tentu saja membuat bulu kuduk saya merinding. Setelah tubuhnya selesai diikat dengan tali pocong. Tubuh mas kardi dibopong ketengah masjid. Sumpah siap diucapkan, semua warga menyaksikan dengan tegang. Namun tiba – tiba terdengar teriakan anak kecil dari arah luar.

“Mas Joko…. Mas Joko…. Mas Joko……”

Semua orang perhatiannya terlihat kearah pintu pagar masjid. Melihat seorang anak kecil sedang ngos – ngosan memanggil – manggil nama Mas Joko. Mas kardi yang sedang terlentangpun ikut – ikutan bangun hingga membuat orang yang berada didepannya meloncat kaget.
Mas Joko yang merasa dirinya dipanggil langsung menghampiri anak kecil yang ternyata anak tetangganya tersebut sembari bertanya ada apa sebenarnya.

“Mba Tuti lari, keluar rumah, ga tahu kenapa, seperti orang kesurupan…” ucap anak kecil dengan nada terbata – bata berusaha mengatur nafasnya.

Tanpa pikir panjang Mas Joko segera berlari menuju rumahnya, seketika juga beberapa warga menyusul Mas Joko meninggalkan mas kardi yang masih duduk kebingungan dalam kondisi tubuh terikat dalam kain kafan. Saya dan kakek juga ikut bergi, sedangkan orang – orang yang berkumpul disana ada yang pulang karena ketakutan, sebagian lagi ada yang pergi menyusul karena rasa penasaran.

Ketika kami sampai dirumah Mas Joko, terlihat ibu mertuanya sedang menangis. Menurut mertua Mas Joko, ketika Mba Tuti sedang duduk menonton TV, tiba – tiba ada suara anjing yang menggong – nggong keras dan tak henti – henti diluar rumah. Karena ibunya takut dengan anjing, maka Mba Tuti yang berinisiatif pergi kehalaman untuk mengusirnya, namun selang beberapa menit Mba Tuti tak juga kembali masuk kedalam rumah.

“lalu ibu pergi keluar untuk menyusulnya, tapi Tuti tidak ada. Dan menurut tetangga tadi Tuti terlihat berlari sambil memegang batu mengejar anjing hitam kearah barat.” Ucap mertua Mas Joko yang kemudian menangis kembali.

Mas Joko yang hendak pergi karena emosi ditahan beberapa warga, kata pak lurah sebaiknya kita melakukan pencarian bersama – sama. Sekitar dua puluh orang yang dipimpin pak lurah siap untuk melakukan pencarian. Sementara kakek mengajak saya pulang setelah berpamitan dengan Mas Joko, kata kakek dia akan membantunya dengan cara lain.

“antar kakek kerumah aki merah!” ucap kakek kepada saya.

Tanpa banyak bertanya saya menarik gas, meluncur menuju rumah ki merah. Sekarang saya merasa yakin mungkin ki merah lah pelakunya, dia telah memanfaatkan kesempatan ketika Mba Tuti ditinggalkan suaminya untuk melancarkan serangannya lagi.

“memang ki merah itu siapa kek?” diperjalanan untuk menghilangkan perasaan tegang saya bertanya.

“kamu masih ingat dengan cerita kakek tentang Mba Eka?” kakek malah balik bertanya.

Menurut kakek ki merah sejak muda memang gemar mengulik ilmu – ilmu kebatinan, waktu itu kakek masih remaja. Masih ingat ketika Mas Solihin hampir saja membunuh seorang pria yang diduga menyantet istrinya, menurut kakek orang tersebut adalah ki merah. Memang waktu itu tidak ada bukti yang kuat, tapi berdasarkan desas – desus yang beredar dikalangan warga meyakini bahwa ki merah memang pelakunya.

“bagaimana kakek yakin waktu itu kalau ki merah orangnya?” saya masih penasaran.

Kakek saya bercerita bahwa mbah buyut sayalah yang memberitahunya, waktu itu mbah buyut saya baru pulang dari sawah malam – malam habis mengairi sawah. Ketika lewat belakang rumahmas solihin samar – samar dalam redupnya lampu bohlam dia melihat sesosok pria sedang menggali tanah. Karena merasa curiga mbah buyut saya bersembunyi dibalik semak – semak mengawasi. Mungkin sekitar lima menit berlalu dan lubang itu telah selesai, pria tersebut mengeluarkan bungkusan kain putih dari sakunya, yang kemudian ia masukan kedalam lubang galian yang baru dibuatnya. Saya melihat sesosok pria tersebut berbalik badan, dia yakin wajah itu adalah wajah ki merah. Dan keesokan harinya tragedy mengerikan Mba Eka terjadi. Mbah buyut saya merasa berdosa juga karena tidak bisa berbuat apa – apa, mengingat bila dia jadi saksipun tanpa bukti yang kuat pengadilan akan tetap tidak percaya.

“kenapa ki merah melakukan itu pada Mba Eka kek? Tanya saya masih penasaran.

Menurut kakek,tak ada yang tahu apa motif dibalik penyantetan Mba Eka waktu itu, ada yang bilang dia cemburu karena ki merah menaruh hati sama Mba Eka, ada yang bilang keluarga mas solihin berselisih dengan keluarga ki merah tentang batas kebun mereka. Tapi ada yang bilang juga itu hanya kegilaan ki merah waktu muda yang ingin mencoba ilmu kebatinan yang baru dipelajarinya. Tak ada yang tahu pasti, kabar itu simpang siur. Hanya ki merah sendiri yang mengetahui alasannya.
Mengerikan kalau yang terakhir menjadi alasan ki merah menyantet orang, gila bener, psikopat akut. Sungguh merinding saya mendengar ada jenis orang seperti itu dimuka bumi ini.

“terus kenapa kakek sekarang bisa yakin kalau yang mengguna – guna Mba Tuti adalah ki merah?”

Mbah buyut saya pernah bilang kepada kakek, bahwa ilmu seperti ini sangat sulit untuk dikuasai. Hanya satu orang yang ia kenal yang bisa melakukan santet jenis ini, dan satu lagi menurut kakek saya, intuisi dan hasil dari penerawangannya selalu mengarah kepada ki merah.

Tidak terasa dalam obrolan panjang itu akhirnya kami tiba didepan rumah ki merah. Saya kira kakek akan langsung melabrak, marah – marah dan menendang pintu rumahnya. Tapi nyatanya kakek bertamu dengan sopan, dia mengetuk pintu masuk dengan pelan sambil mengucapkan salam.

Istri ki merah menyambut dengan ramah, kami dipersilahkan masuk. Segelas the hangat dan keripik pisang disajikan sambil menunggu ki merah datang. Setelah kakek dan ki merah duduk berhadap – hadapan, kakek langsung mulai berbicara.

“saya mohon ki, siapapun yang menyuruh aki tolong hentikan. Saya sudah tak tega melihatnya.”

“apa maksudmu?” jawab ki merah sambil cengengesan.

“sudahlah ki, kita tidak usah berpura – pura lagi.”

Raut wajah ki merah berubah menjadi serius, mungkin dia sudah tidak bisa lagi menyepelekan kakek sekarang. Setelah memuji kejelian kakek, ki merah mulai bercerita.

“sebenarnya saya tak mau lagi menggunakan ilmu seperti ini, kau tahu sendiri akibat ulahku dimasa lalu aku sudah dicap jelek oleh masyarakat sini. Dikucilkan, disepelekan bahkan dipandang criminal. Mereka hanya bisa menghakimi tanpa pernah tahu alasanku melakukannya dulu.” Ucap ki merah.

“ada seorang pria umurnya mungkin sama denganku, dia mendatangiku malam – malam dan menceritakan masalahnya dengan gambling, aku tak tega mendengarnya. Setelah mendengar ceritanya itu aku merasa menjadi diriku yang dulu, dia memilki nasib sama sepertiku. Iblis dalam diriku muncul kembali, hingga aku mengiyakan permintaannya.” Lanjut ki merah.

“memang apa yang pria itu ceritakan? Apa dia punya masalah dengan keluarga Mas Joko. Saya ingin mendengar alasannya?” kakek bertanya.





SANTET (Witchcraft) - Chapter 9



“jadi seperti ini kejadiannya pak.” Mas Joko mulai bercerita, semua orang yang ada diruangan itu, saya, nenek dan kedua keponakan saya mendengarkan dengan seksama.

Menurut Mas Joko dua hari kemaren Mba Tuti mulai pulih, entah karena mulai terbiasa atau tidak peduli lagi, sedikit demi sedikit terror yang dihadapi mulai bisa ia atasi. Kini ia tidak peduli lagi dengan bayangan hitam yang selalu terlihat diluar rumahnya menjelang malam tiba. Suara wanita yang terus terngiang ditelinganya sudah anggap ia biasa. Bahkan terror itu sudah jarang. Mungkin karena kondisi rumah Mas Joko selalu ramai, menurut Mas Joko ia meminta tetangganya untuk menginap dirumahnya secara bergantian. Sedangkan ibu mertuanya sejak Mba Tuti mengalami terror ia memutuskan untuk tinggal disana, walaupun adik iparnya harus bolak balik mengecek rumah sekedar untuk bersih – bersih atau mengambil baju ganti.

Menurut Mas Joko malam itu dirumahnya cukup ramai, ada dua orang perempuan tetangganya yang menginap. Sedangkan Mas Joko berjaga dibangku depan rumah ditemani adik iparnya, ketika sedang menikmati segelas kpoi dan rook kreteknya, tiba – tiba gerimis turun. Memaksa Mas Joko untuk masuk kedalam rumah. Sekitar tengah malam dan gerimis telah berubah menjadi hujan lebat, semua orang sudah terlelap. Kecuali Mba Tuti waktu itu yang terbangun karena ingin buang air kecil.

Mba Tuti tidur diruang tengah ditemani ibu dan dua orang tetangganya yang menginap disana. Sedangkan Mas Joko tidur disofa ruang tamu. Mba Tuti mencoba mengguncang – ngguncangkan pelan tubuh ibunya untuk minta ditemani ke kamar mandi.

Mas Joko ini memiliki kamar mandi yang terpisah dari rumahnya, dan memiliki sebuah sumur sebagai sumber air bersih. Maklum didesa Mas Joko yang letaknya cukup jauh dari kecamatan atau hampir bisa dibilang sangat pelosok, warganya tidak memiliki akses air bersih yang langsung kerumah – rumah. Ada sebenarnya MCK yang didirikan sebagai pusat air bersih warga, namun sebagian orang lebih memilih cara tradisional untuk mendapatkan air bersih agar tidak bolak – balik mengangkutnya dari MCK, yaitu dengan cara menggali sumur.

Hujan turun sangat deras disertai angin kencang, malas sebenarnya Mba Tuti harus pergi kebelakang namun kali ini sudah tidak bisa dikompromi lagi. Karena ibunya tak kunjung bangun, ia memutuskan untuk pergi sendiri. Namun tiba – tiba lampu dirumahnya mati, keadaan menjadi gelap guitar. Ia mengambil korek api untuk menyalakan lilin, yang sudah dipersiapkan sebelumnya, karena warga dikampung termasuk dikampung saya selalu siaga bila hujan tiba untuk menyiapkan lilin apalagi kalau hujannya dibarengi petir yang tak henti – henti.

Mba tuti keluar lewat pintu belakang hanya ditemani cahaya lilin dan paying, tidak kepikiran waktu itu menurut Mba Tuti akan diganggu hal – hal aneh lagi. Namun ketika membuka pintu kamar mandi samar – samar dalam derasnya hujan yang mengguyur atap rumahnya terdengar suara wanita menangis. Mba tuti berhenti sejenak, untuk memastikan bahwa suara itu memang suara orang bukan suara angin ataupun air hujan.
Suara tangisan wanita itu semakin kencang terdengar begitu lirih seperti orang kesakitan. Dalam hati Mba Tuti mengutuk, dasar setan sialan tak henti – hentinya menggangguku. Mba tuti mencoba menghiraukan dan langsung masuk kekamar mandi. Tapi lama – kelamaan suara perempuan itu sedkit mengganggunya, karena Mba Tuti sudah geram dengan mengenyampingkan rasa takut dia memberanikan diri untuk mencari arah suara tangisan itu berasal.

Suara tangisan itu berasal dari arah samping. Mba tuti yang baru selesai keluar dari kamar mandi langsung membuka pintu. Sebatas mata memandang hanya kegelapan dan air hujan yang terlihat, Mba Tuti menengok kekiri dan kekanan tapi tak ada seorangpun terlihat.

“heh sundal, keluar kau!!” tantang Mba Tuti teriak ditengah malam.

Suara tangisan itu kini semakin jelas, terdengar dari arah sumur milik Mba Tuti. Mba Tuti yang merasa ditantang dia keluar tak peduli lagi dengan derasnya air yang membasahi tubuhnya.

Mba Tuti mendongak untuk melihat kedasar sumur, dengan susah payah ia mencoba memecingkan mata yang terhalang cucuran air dari rambutnya. Lilinnya sudah tentu padam. Begitu kepala Mba Tuti mulai mendongak kebawah suara itu terdengar lebih jelas.

“dasar sundal.” Ucap Mba Tuti yang kemudian mengambil batu dari samping rumahnya yang ukurannya sebesar helm yang ia angkat dengan susah payah.

Byurrr terdengar bunyi yang menggema didalam sumur yang diikuti dengan jeritan suara perempuan. Untuk sejenak suara perempuan itu hilang, Mba Tuti yang merasa sudah puas mendongak lagi untuk mengecek didalam sumur. Terlihat sesosok tubuh dengan rambut basah tergerai panjang menggelantung ditali timba sumur. Dalam sekejap keberanian Mba Tuti luntur dan membuatnya tersentak kaget bukan main.
Tubuh Mba Tuti lemas tidak berdaya, dia masih terduduk ditanah menyaksikkan tali timba yan terus bergerak seperti ada seseorang yang sedang menariknya dari bawah. Mba Tuti mencoba berteriak memanggil suaminya namun suara hujan yang deras telah meredam suaranya. Mba Tuti tak sadarkan diri saat melihat sesosok wanita yang hendak menyeret kakinya agar ikut masuk kedalam sumur.

Mba Tuti ditemukan dipinggir bibir sumur dan hampir aja nyemplung kebawah sekitar jam 4 subuh oleh ibunya yang menyadari karena anaknya tidak ada dikasur. Peristiwa itu menggemparkan warga kampung, karena mungkin dua tetangga Mas Joko yang malam itu menginap membeberkannya ke warga yang lain. Bahkan menurut Mas Joko beberapa warga sampai datang menjenguk juga, karena isu yang berkembang dimasyarakat katanya Mba Tuti mau bunuh diri dengan cara terjun kedalam sumur.

Ketika Mas Joko menimba air sumur untuk mengisi bak mandinya secara tak sengaja dalam ember air yang ia tarik terdapat bungkusan pocong kecil seperti dulu yang ditemukan Mas Joko dibawah batu. Rupanya si pengganggu belum kapok – kapok.

“ini pak ditemukan lagi.” Ucap Mas Joko setelah selesai menceritakan peristiwa istrinya sambil menyodorkan pocongan kecil.

Karena kakek tak tega mendengar cerita Mas Joko dengan terpaksa dia mau turun tangan lagi karena menurut kakek ini sudah keterlaluan. Kalau niatnya Cuma ngasih pelajaran mungkin masih bisa ditolerir tapi ini sudah niat mencelakakan.

Keesokan harinya, sekitar jam 3 sore keluarga saya datang kerumah Mas Joko, saya memakai motor pinjaman dari adik kakek untuk membonceng kedua keponakan saya. Mba Tuti terlihat memprihatinkan ketika kami datang kesana, tubuhnya tampak kurus tinggal tulang yang tebalut kulit. Kehidupannya tak tenang, terror yang terus dialaminya membuat hidupnya berantakan.

Sebelum kami pulang kakek berpesan pada Mas Joko, agar jangan membiarkan Mba Tuti sendirian keluar rumah, si pelaku santet tak erani masuk rumah karena sudah dihalangi pagar ghoib maka dia berusaha mengajak si korban keluar rumah untuk diperdaya.

Keesokan harinya setelah pulang dari rumah Mas Joko, saya diajak kakek untuk menemui seorang pria yang ternyata adalah seorang paranormal cukup terkenal dikampung saya. Jadi dikampung saya itu ada seorang pria tua yang cukup tersohor, banyak orang – orang besar dari kota yang datang kerumahnya.

Tak bisa dipungkiri, percaya atau tidak memang masih banyak orang – orang yang datang ke orang pintar atau paranormal untuk meminta restu agar semua urusannya lancer. Masalah bisnis, pencalonan diri menjadi aparatur Negara sampai masalah kecil seperti ingin lolos tes cpns banyak dari kita menggunakan jasa mereka atau bahkan datang ketempat – tempat keramat. Saya tak mengerti apakah ini termasuk menyekutukan Tuhan atau tidak tapi begitulah adanya, tapi jangan berpikir bahwa datang ketempat keramat hanya sebatas yang terlihat di TV saj bahwa ritualnya meakutkan dan menyeramkan, semuanya terlihat biasa bahkan normal – normal saja.
Saya tidak begitu kenal dengan pria tua ini, karena jarang bergaul dengan warga mungkin karena terlalu sibuk dengan tamu – tamu kotanya itu. Yang pasti seluruh kampung sudah tahu pria tua ini dengan nama yang akan saya samarkan. Aki merah begitu mungkin saya akan menyebutnya karena saat pertama kali melihatnya dia mengenakan baju merah.

Ketika kami datang ki merah sedang asyik memandikan burung perkututnya, kebetulan hari ini tidak ada tamu yang datang kerumahnya. Ketika basa – basi selesai dan kami dipersilakan masuk, mimic muka kakek yang tadinya ramah kini berubah menjadi serius.

“sudahlah ki, akhiri semuanya!.” Ucap kakek pada ki merah.
Entah benar – benar tidak mengerti atau hanya pura – pura ki merah tampak kebingungan dengan ucapan kakek. Dia menatap kakek lekat – lekat dengan rasa penuh curiga.

“kasihan, dia masih muda. Apa pengalaman yang dulu tidak membuat aki belajar.” Seakan tidak peduli dengan mimic ki merah, kakek terus melanjutkan ucapannya.

“apa maksudmu?” ki merah akhirnya merespon.

“entah ada yang menyuruh aki atau aki sendiri yang punya urusan dengan orang ini. 

Tolong jangan ganggu dia lagi, saya benar – benar memohon kali ini. Istrinya tampak menderita karena ulah aki.” Kakek masih tetap melanjutkan ucapannya dan tidak menggubris pertanyaan ki merah.

Usai menyampaikan permohonannya kakek mengajak saya untuk pergi meninggalkan ki merah dengan wajah penuh tanda Tanya. Sempat terbesit juga dalam benak saya, apa yang sebenarnya sedang dilakukan kakek. Jikapun kakek sudah mengetahui orang yang telah mengganggu keluarga Mas Joko, apakah aki merah orangnya apakah kakek tidak salah melemparkan tuduhan tersebut?

Ingin rasanya saya bertanya tentang ulahnya tadi siang dirumah aki merah, tapi melihat mimic muka kakek yang tidak seperti biasanya membungkam keberanian saya untuk bertanya. Mungkin kita biarkan saja waktu yang akan menjawabnya, saya hanya penonton biasa yang hanya ikut menyimak.

Sore hari sepulang dari rumah aki merah, rumah saya kedatangan tiga tamu. Satu pria dengan kumis lebat mengenakan peci hitam dan dua pria lagi mengenakan kaos oblong biasa yang dibalut dengan jaket kulit berwarna coklat. Saya tidak mengenal pria tersebut, yang pasti bukan warga dari kampung saya. Begitu dipersilahkan masuk mereka segera duduk. Si pria berpeci hitam yang ternyata setelah memperkenalkan diri adalah seorang lurah dari kampung Mas Joko.

“ada apa pak?” ucap kakek.

Pak lurah mulai menceritakan kejadian dikampungnya, bahwa Mas Joko hampir saja membunuh salah satu warganya, untung hal tersebut masih bisa dicegah sehingga tidak ada korban. Kejadian itu berlangsung saat warga terlelap tidur sekitar jam 10 malam, warga yang terbangun karena mendengar suara teriakan minta tolong dari seorang pria.
Lantas setelah Mas Joko dan warga yang jadi sasaran kemarahan Mas Joko ini dibawa ke balai desa, maka masalah ini mulai terungkap disana. Mas Joko merasa curiga bahwa pria yang ternyata sorang pegawai perkebunan tebu ini menjadi ulah dari guna – guna istrinya. Tadinya pak lurah berniat akan membawa masalah ini ke polisi, tapi takutnya terjadi salah paham maka pria berpeci hitam tersebut bilang kepada kakek bahwa sebelum masalah ini dibawah keranah hukum, ia ingin menyelesaikan dulu secara kekeluargaan.

“dan saya mendengar bahwa Joko berobat atau konsultasi dengan bapak, apakah bapak yang member tahu pelaku guna – guna istrinya itu?” ucap pak lurah.

Kakek merasa kaget mendengar kabar tersebut, tentu saja dia belum pernah berbicara apapun masalah pelaku ataupun orang yang ada dibelakang santet istrinya. Kenapa Mas Joko gegabah bertindak tanpa membritahu dahulu, kalau begini Mas Joko malah menyeret kakek masuk kedalam masalah. Hendak menolong anjing yang terjepit tapi balasan terima kasihnya malah menggigit.

Agar semua beres dan jelas, maka kakek bersedia datang kekampung Mas Joko untuk musyawarah dib alai desa menyelesaikan masalahnya. Saya ikut membonceng kakek, sekaligus ingin menjawab rasa penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Begitu kami sampai, keadaan didalam ruangan balai desa sudah ramai oleh warga, didepan terlihat Mas Joko yang sedang duduk dikursi kayu sebelah kanan, sedangkan diarah berlawanan tampak seorang pria yang juga duduk dengan wajah gelisah penuh ketakutan. Baru belakangan saya tahu bahwa pria yang hampir saja jadi sasaran amukan Mas Joko ini bernama Mas Kardi.

Pak lurah mulai membuka musyawarah. Saya duduk bersama warga lainnya, sedangkan kakek berada didepan bersama pak lurah. Suasana dibalai desa mirip sekali diruang persidangan, Mas Joko sebagai terdakwa, Mas Kardi sebagai korban sedangkan pak lurah tampak seperti hakim pengadilan.

“kenapa kamu ungin membunuh kardi?” Tanya pak lurah.

“karena dia sudah mengguna – guna istri saya, kampret kau kardi!!!” teriak Mas Joko dengan penuh amarah.

“saya tidak melakukan apapun pada istrinya pak lurah, siapa bilang bahwa aku pelakunya. Apakah dia… dia si dukun sialan itu yang memberitahumu, sehingga timbul fitnah ini.” Mas Kardi tak kalah geram sambil menunjuk – nunjuk muka kakek yang masih santai duduk disamping pak lurah.

Jujur saya sedikit tersinggung ketika kakek dikatakan dukun sialan oleh Mas Kardi. Pertama kakek saya bukan dukun dan tidak membuka praket, kedua manusia sialan tidak akan mau membantu orang lain apalagi pertolongan itu bisa membahayakan keluarganya. Mungkin kakek saya bukan malaikat yang seratus persen orang baik dan sempurna, tapi tetap saja saya merasa marah ketika mendengar ucapan Mas Kardi. Semua mata tertuju pada kakek termasuk pak lurah, tanpa perlu ditanya lagi kakek kemudian membuka mulut.

“jok apa saya pernah mengucapkan satu nama terkait pelaku yang mengguna – guna istrimu.”

Mas Joko hanya diam tak memberikan jawaban apapun, wajahnya tertunduk mungkin karena malu. Pak lurah mengulang pertanyaan kakek kepada Mas Joko untuk mendapatkan jawaban pasti.

“memang tidak pak, tapi si kardi ini kan dulu sempat berhubungan dengan tuti sebelum akhirnya saya menikahinya. Lagian tadi malam dia terlihat lewat dirumah saya malam – malam sudah barang tentu dia pelakunya pak lurah.” Ucap Mas Joko masih dengan nada geram.

“saya semalam hanya lewat pak lurah, tidak maksud apa – apa. Lagian istrimu emang bidadari?! Masih banyak wanita cantik diluar sana yang bisa saya dapatkan.” Ucap mas kardi yang tak kalah emosi.

Ketika mas kardi mau berkata lagi, Mas Joko beranjak dari duduknya dan meloncat sambil melayangkan satu pukulan tepat dipipi sebelah kiri mas kardi. Suasana dib alai desa kembali riuh, ada warga yang sibuk menarik Mas Joko agar tidak berkelahi, namun sebagian lagi bersorak ketawa – ketiwi menyaksikan adegan yang jarang terjadi ini.
Mas Kardi yang merasa dirinya dilecehkan karena dipukul dimuka umum merasa marah dan balik ingin menyerang, tentu saja hal ini membuat warga kerepotan memisah dua pria yang sedang dikuasai amarah ini. Hampir lima belas menit kegaduhan berlangsung, hingga keadaan kembali kondusif. Kedua pria yang berkelahi ini kembali duduk tenang dengan kawalan beberapa warga disampingnya, sekedar jaga – jaga agar kerusuhan tidak terulang kembali.

“saya sedikitpun tidak mengganggu istrinya pak lurah. Memang apa buktinya kalau saya yang melakukan guna – guna itu hah?! Lagian saya baru tahu kalau istrinya diguna – guna pak lurah. Bukankah dari kabar yang saya dengar istrinya mau bunuh diri disumur belakang rumahnya. Lalu sekarang di marah – marah menuduhku yang tidak – tidak. Apakah ini cara kau saja untuk mencari kambing hitam atas ketidak becusanmu mengurus istri?” bentak mas kardi yang mungkin merasa emosi karena pukulan Mas Joko belum ia balas.

Mas Joko hendak kembali meloncat dan melayangkan pukulan, namun kali ini ada dua orang warga yang menahannya. Begitu juga mas kardi yang kedua tangannya dipegang warga lainnya seperti seorang tahanan. Pak lurah tampak kebingungan, apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan pertikaian kedua warganya ini. Setelah berpikir cukup lama, dan membiarkan mas kardi dan Mas Joko beradu mulut, akhirnya pak lurah menggebrak meja. Keadaan menjadi hening semua mata tertuju kepada pak lurah.

“begini saja, agar semuanya beres. Kita tak punya bukti bahwa mas kardi yang menyantet istrinya joko. Tapi untuk menghilangkan rasa penasaran joko yang menuduh bahwa kardi pelakunya, mari kita Tanya saja ke ahlinya. Orang yang lebih ngerti tentang hal – hal seperti ini.” Ucap pak lurah, yang kemudian memalingkan pandangannya kepada kakek saya.

“menurut bapak yang lebih ngerti tentang hal – hal seperti ini. Sebenernya siapa yang telah tega mengguna – guna istrinya si joko ni, apakah kardi orangnya atau ada orang lain?

Mendengar pertanyaan pak lurah, mimic muka kakek tampak kebingungan, apa yang harus dia katakana sekarang. Ditambah semua mata warga tertuju padanya. Kedaan hening, semua warga terlihat serius siap – siap mendengar ucapan yang akan keluar dari mulut kakek saya, hingga akhirnya kakek menarik nafas dalam – dalam sebelum ia mulai berbicara.





SANTET (Witchcraft) - Chapter 7



Dua hari berlalu, semenjak obrolan tengah malam dirumah Mas Joko. Kehidupan kembali normal, walaupun saya belum mengerti untuk standar yang dikatan normal itu seperti apa. Mba Tuti kembali pulih, Mas Joko sedikit demi sedikit kembali menjalankan usahanya yang satu bulan sempat terbengkalai. Untuk penjagaan agar tak ada yang kembali lagi menganggu Mba Tuti, kakek melakukan uopacara adat yang dinamakan “numbal imah”.

Numbal imah ini semacam kebudayaan lama yang masih ada dikampung saya, biasanya dilakukan ketika sebuah rumah bru berdiri atau keluarga yang akan pindah kerumah baru. Menurut kepercayaan penduduk dikampung saya, hal ini dilakukan sebagai tolak bala, agar rumah tersebut terhindar dari mara bahaya dan gangguan hal – hal yang tak kasat mata.

Numbal imah bukan sebuah upacara besar, dengan ritual yang aneh – aneh. Hanya menancapkan 4 bambu kuning dengan panjang sekitar 10cm di empat penjuru rumah. Setelah itu dilakukan syukuran dengan mengundang para tetangga untuk melakukan pengajian dengan diakhiri acara makan – makan. Jika dilihat dari sudut pandang sosialnya, mungkin sebenernya tradisi numbal imah ini hanya untuk mereratkan hubungan silaturahmi sesame warga.

Jangan terlalu berpikir negative, kami hanya menjalankan tradisi. Menghormati warisan filosofi hidup leluhur terdahulu kami. Karena upacara apapun yang dilakukan hanyalah sebuah acara, ketentuan kita serahkan dan kembalikan pada sang pencipta, yang bagi umat islam seperti kita yaitu Allah Subhanahuwata’ala. Saya kira semuanya akan baik – baik saja, namun ternyata manusia memang tak bisa lepas dari masalah. Hingga akhirnya terror yang dialami Mas Joko kini pindah ke keluarga saya. Yang pertama kali menyadari bahwa keluarga kami sedang diganggu adalah nenek.

Nenek bercerita kepada saya, sebelum akhirnya dia juga bercerita kepada kakek tentang hal – hal aneh yang dialaminya. Kejadian itu diawali ketika kami sedang bakar – bakar sate ayam. 4 ekor ayam broiler dikirim paman saya yang baru saja panen di peternakannya. Sekitar jam 10 malam keluarga saya masih belum tidur, masih asik memanggang tusukan sate dihalaman belakang, dapur lebih tepatnya.

Kebetulan rumah kakek saya memiliki dapur yang terpisah dari bagian rumah. Letaknya beberapa meter saja dari rumah. Dapur kami ini tiang – tiangnya terbuat dari kayu, dindingnya dari anyaman bamboo atau orang – orang biasa menyebutnya “bilik”. Dengan atap genteng lama yang sudah berwarna coklat. Sebuah dapur yang cukup luas, selain ditempati koleksi perabot dapur milik nenek disana juga ada bangku berbentuk persegi empat, tempat dimana biasanya kami makan bersama – sama.

Kakek masih sibuk mengipas – ngipas arang agar daginya cepat matang, sementara nenek sibuk meracik bumbu kacang. Dan kedua keponakan perempuan saya tampak lahap menikmati setiap potongan daging empuk berwarna coklat dan kecap manis.

“kok bau amis ya pak?”. Ucap kakek saya ketika sedang mengolesi daging dengan jeruk nipis dan kecap manis.
“ah engga. Daging ayamkan baunya ga terlalu amis bu, ga kayak daging kambing.” Jawab kakek.
“bukan, bukan dari daging pak, dari luar kayaknya.” Sambil mengendus – ngendus nenek mencari arah bau berasal.

Karena mendengar ucapan nenek, kami semua ikut mengendus. Tapi jujur kami semua tak mencium bau apapun. Mungkin karena penasaran nenek keluar, mencari sumber bau berasal. Saat keluar nenek melihat sepasang mata hijau, terlihat dibawah pohon rambutan tampak sedang mengawasi. Awalnya dia tidak curiga dan menduga seekor kucing, karena mata kucing akan bercahaya ditempat gelap.

Mungkin karena nenek kasihan atau mungkin hanya ingin berbagi rejeki saja, ibu melambai – lambaikan satu tusuk sate sambil memanggil – manggil yang kira seekor kucing.
“puss…..pusss….pusss, sini pusss.”
Tapi tampaknya sesosok mata itu tak pernah bergeming dengan ajakan nenek saya, terus menatap tanpa berkedip sedikitpun. Kesal karena panggilannya tidak dihiraukan, nenek melemparkan satu tusuk sate kearah sepasang mata tersebut. Tapi masih tetap tidak bergerak sedikitpun, nenek merasa takut sebenernya, namun dia lebih memilih diam, kemudian masuk lagi kedapur melanjutkan aktifitasnya tanpa membicarakannya kepada kami.

Kejadian itu berulang, ketika nenek bangun jam 4 shubuh hendak pergi kedapur membersihkan sisa – sisa acara bakar – bakar semalem. Maklum dikampung saya biasanya para ibu bangun lebih pagi disbanding anak – anak dan suaminya. Tujuannya untuk menyiapkan sarapan dan bekal yang hendak dibawa suaminya pagi – pagi ke lading.

Tahrim belum berkumandang dimasjid, tapi sudah terbangun karena sudah terbiasa. Ketika hendak membuka pintu belakang rumah, sekelebat seperti ada orang yang berlari persis didepannya. Nenek saya merasa kaget dan sedikit ketakutan, melirik kekiri dan ke kanan untuk memastikan bahwa yang dialaminya barusan bukan delusi atau imajinasi karena belum tersadar dari tidurnya.

Namun nihil, tak ada seorangpun yang nenek lihat. Dia mencoba meyakinkan diri bahwa barusan nyata, bahkan dia bisa merasakan hembusan angin yang barusan lari dan getaran dari tanahnya juga terasa nyata. Ketika berjalan menuju dapur dan hendak membuka pintunya, nenek teringat kembali kejadian tadi malam saat melempar setusuk sate kea rah pohon rambutan. Maka dengan reflek dia kembali mengecek pemandangan pohon rambutan, dan apa yang dilihat?! Sepasang mata itu masih ada, berwarna hijau tampak bulat dan tak berkedip sedetikpun.

Setelah masuk kedalam dapur, nenek mengambil korek api. Dia mencoba menyalakan tungku kayu untuk memasak. Tapi perasaan itu tak bisa dibohongi, kaki nenek katanya bergetar. Bulu kuduknya merinding, bayangan sepasang mata hijau itu selalu teringat dikepalanya.

Sekedar info, entah benar atau bohong katanya kalau bulu kuduk kita merinding karena ketakutan, itu karena ada makhluk astral yang sedang berada didekat kita. Karena dalam tubuh kita mengandung listrik, dan makhluk astral atau makhluk tak kasat mata ini memiliki energy maka ketika tubuh kita didekati reflek energy listrik didalam tubuh ini akan bereaksi.

Nenek saya mencoba memberanikan diri dengan tetap beraktifitas dan menghirauikan bayangan – bayangan seram dikepalanya. Namun ketika bau amis itu tercium kembali hidungnya, nenek menyerah dan lari meninggalkan pekerjaanya didapur yang belum selesai.

Pagi hari nenek bercerita kepada kekek tentang apa yang terjadi semalam dan tadi subuh, namun ketika dicek dibwah pohon rambutan tak ada apa – apa.

“kalau sepasang mata hijau, jangan – jangan yang waktu itu dikebun tebu kek?” kata saya kepada kakek mengingatkan kejadian waktu kita dicegat anjing hitam.
“huss…mungkin itu Cuma kucing saja.” Jawab kakek tenang agar suasan tidak semakin panic.

Ketika kakek pergi kesawah, nenek terus bertanya kepada saya tentang apa yang dimaksud kejadian dikebun tebu dengan sepasang mata berwarna hijau. Tapi saya mengerti maksud kakek, jika saya menceritakan apa yang etrjadi peristiwa itu, nenek tak akan berani lagi bangun subuh untuk masak dan bisa kacau balau nantinya. Nenek saya itu orangnya gampang panic.

Untuk sekedar menengkan hati nenek, maka saya memasangkan lampu dibawah pohon rambutan yang jaraknya beberapa meter dari dapur kami. Lampu bulat berwarna kuning dengan daya 5 watt rasanya cukup untuk mengusir lagi kekhawatiran nenek. Maklum letak antara rumah kami dengan tetangga sedikit renggang, dipisahkan oleh kebun pisang yang gelap gulita kalau malam hari.

Namun rupanya terror belum berhenti sampai disitu. Menurut nenek menjelang malam hari ia merasa ingin buang air kecil, maka ia bergegas pergi meninggalkan tempat tidurnya. Mata masih dalam keadaan sepet, pikiran ngantuk antara sadar dan tidak sadar ketika ibu berdiri dikamar mandi dan melihat kearah jendela kaca kecil, diluar sana ia melihat seorang wanita berdiri persis menatap kearahnya dengan wajah penuh amarah.
Ketika melihat kejadian itu, nenek tersadar seketika. Rasa kantuk telah pergi, mata bersinar seperti bangun dipagi hari, beberapa kali dia mengucapkan istighfar, kemudian mencuci mukanya. Walaupun merasa takut, nenek kembali melihat kearah jendela kaca kecil kamar mandi untuk memastikan bahwa barusan bukan mimpi. Dan wanita itu masih tetap berdiri, mengenakan kebaya putih dengan balutan kain batik dibawahnya, berkerudung putih pula tapi rambutnya tergerai kedepan.

Nenek yang panic segera keluar setengah berlari, dia berteriak namun suaranya tidak keluar. Tubuhnya menggigil ketakutan setengah mati. Nenek saya segera menggoyang – goyangkan tubuh kakek saya yang sedang tertidur pulas. “kenapa bu?” Tanya kakek saya ketika terbangun.

Nenek saya tidak berbicara, wajahnya pucat dengan pipi dibanjiri air mata. Dia hanya menunjuk – nunjuk keluar, dengan tangan yang bergetar. Kakek yang mengira ada maling sontak bangun dan berlari keluar membuka pintu. Namun nihil tak ada siapapun diluar rumah, sepi dan sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik dari kebun pisang sebelah dan semilir angin malam yang membuat tubuh ketakutan.

“kenapa bu? Bu…nyebut..istighfar bu…” kakek mengguncang – ngguncangkan tubuh nenek karena dia menangis karena ketakutan.

Saya duduk disamping nenek mengusap – ngusap bahunya mencoba menenangkan. Keponakan saya yang masih berumur 10 tahun terbangun kemudian membuatkan nenek teh manis. Malam itu benar – benar menggemparkan, saya berkamsud menggundang tetangga agar suasana ramai dan nenek bisa sedikit tenang, tapi kakek melarangnya. Mengingat waktu sudah menunjukkan setengah dua malam.

Ketika keadaan sedikit kondusif, dan nenek saya tidak ketakutan lagi kakek mulai bertanya apa yang dialaminya.
“waktu kekamar mandi dari kaca jendela ibu lihat ada perempuan, matanya melotot seperti marah sama ibu. Dia sedang berdiri diluar sendirian.” Ucapa nenek yang kemudian menangis kembali mungkin karena baying – baying itu teringat lagi.
Akhirnya malam itu nenek dan kedua keponakan saya tidur diruang tengah, sementara saya dikursi sofa. Kakek mungkin yang tak bisa tidur, dia pergi keluar katanya mau berkeliling rumah untuk mengecek keadaan sekitar. Kakek juga sekalian ingin mencari tahu apa yang sebenernya sedang terjadi.


Tapi ketika saya hendak terlelap tidur, terdengar suara sedang berlari, mungkin itu kakek. Getarannya bahkan masih terasa, saya yang merasa penasaran kemudian membuka gorden kaca untuk mengecek. Dan saya melihat kakek berlari menuju kebun pisang yang gelap gulita, entah apa yang kakek kejar kearah sana. Ingin rasanya saya keluar, namun belum sempat saya beranjak dari kursi, tiba – tiba seorang perempuan berdiri dihalaman depan menatap kearah saya.